Berbicara mengenai Negara memang tak ada habisnya. di artikel yang versi videonya telah rilis duluan ini (video), saya akan menjelaskan poin kedua dari “bagaimana cara membuat suatu negara menjadi maju”. Di bagian pertama kemarin saya menjabarkan mengenai sistem pemerintahan yang digunakan oleh seluruh negara maju di planet ini.

Walaupun memiliki beberapa kelemahan, demokrasi begitu unggul dibandingkan berbagai sistem pemerintahan lainnya karena memberi iklim kondusif bagi kemakmuran masyarakat. Untuk lebih detail tentang tema demokrasi bisa dilihat disini.

Timbul pertanyaan, kenapa dengan sistem  pemerintahan yang sama-sama menganut demokrasi, kemakmuran antar negara banyak yang berbeda-beda. Misalnya saja Indonesia dengan Amerika Serikat atau Singapura. Jawaban saya tentu saja karena sistem pemerintahan saja tidak cukup. Dibutuhkan dua hal lain yang juga sama pentingnya atau bahkan lebih penting daripada sekedar sebuah sistem pemerintahan.

Hari ini saya akan membahas mengenai SDM suatu negara. SDM begitu penting karena sehebat apapun usaha sebuah pemerintahan untuk mencapai kemakmuran, selama masyarakatnya tidak mensupport dan tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang telah tersedia, kemakmuran akan tetap menjadi hal yang “jauh panggang dari api”. Sehebat apapun pelatih dan selengkap apapun fasilitas latihan, kalau pemainnya menolak untuk berlatih, yah tim tersebut akan kalah.

Sebagaimana yang saya contohkan di dalam video, banyak negara maju yang tidak peduli apapun bentuk pemerintahannya dan siapapun yang memegang kendali di pemerintahan, negara tersebut tetap maju. Di video tersebut saya mencontohkan Jepang, Jerman dan Amerika Serikat.

*

Jadi sebenarnya ada apa ini? Karakter kolektif memang sangat dipengaruhi oleh faktor sejarah, kultur, dan geografis. Misalnya orang pedesaan umumnya lebih “adem” dibandingkan orang perkotaan karena di pedesaan jarang terjadi persaingan untuk bertahan hidup. Selama ribuan tahun orang di pedesaan mengalami keberlimpahan lahan dan tidak perlu bersaing untuk menjual hasil kebun atau ternak mereka, sehingga terbentuklah “karakter kolektif” yang adem tersebut, belum lagi secara geografis umumnya pedesaan lebih sejuk daripada di kota, yang menyebabkan fikiran menjadi lebih fresh.

Contoh berikutnya adalah faktor sejarah. Minat entrepreneurship bangsa Indonesia yang sangat rendah dapat dijelaskan dari pola penjajahan yang diterapkan Belanda. Oleh Belanda masyarakat Indonesia dilarang untuk berdagang. larangan selama ratusan tahun ini lah yang menimbulkan “karakter kolektif”, sehingga bangsa Indonesia memiliki minat entrepreneurship yang kecil dan lebih berlomba-lomba untuk menjadi pegawai. Karena di zaman belanda, karir yang memungkinkan dan cukup menjanjikan hanyalah menjadi pegawai pemerintahan.

Karakter-karakter yang dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut memang sangat sulit atau bahkan mustahil untuk dirubah, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin. Anggap lah karakter seperti ini adalah modal dasar, tentunya karakter kolektif ini ada yang positif dan ada yang negatif, pada bangsa apapun pasti seperti itu. Kita harus mempertahankan yang positif dan “melawan” karakter kolektif negatif yang kita miliki melalui…

Pendidikan

Pendidikan merupakan senjata rahasia yang sangat pamungkas untuk meningkatkan kualitas SDM suatu bangsa. Seandainya sebuah negara hanya boleh memperbaiki suatu aspek dalan negara tersebut, maka pilihan terbaik adalah memperbaiki sistem pendidikannya.

Jika hari ini pendidikan di suatu negara masih amburadul, dapat dipastikan 25 tahun kedepan negara tersebut juga akan masih amburadul. Pendidikan merupakan kunci utama, sebuah solusi jangka panjang kemajuan suatu bangsa.

Kembali ke analogi “belajar dengan meniru” yang saya kemukakan di tulisan sebelumnya. Tentulah Indonesia harus segera meniru negara dengan sistem pendidikan terbaik yang paling pas untuk di implementasikan di Indonesia.

Mungkin kita bisa meniru negara-negara Skandinavia, mungkin kita bisa meniru Jepang atau Korea Selatan, mungkin kita bisa meniru Amerika Serikat atau yang lainnya yang sudah TERBUKTI berhasil.

Jika pendidikan kita mulai kita benahi detik ini juga, hasilnya akan kita nikmati 25 tahun lagi dan kedepannya. jika tidak, Indonesia 25 tahun lagi akan tidak jauh berbeda dengan Indonesia yang sekarang.

Lalu bagaimana dengan jangka pendek? Tentu kita maunya tidak hanya 25 tahun lagi kita majunya, kalau bisa secepatnya.

Memang agak sulit, tetapi tentu ada solusinya. Generasi yang sudah “terlanjur dewasa” hanya bisa dirubah dengan “dipaksa”  dengan berbagai kebijakan. Adapun masyarakat yang sudah terlanjur dewasa itu harus supportif terhadap berbagai kebijakan bukannya malah resisten.

Sebagaimana yang saya jelaskan dalam video, 4 karakter kolektif yang merusak suatu bangsa terdiri dari victimisasi, blaming others, dependensi dan demanding. Masyarakat harus mendobrak mentalitas itu dan harus supportif terhadap berbagai kebijakan yang membuat kita “terpaksa” meningkatkan kualitas diri dan harus melawan kebijakan yang membuat mental kolektif kita semakin rusak.

Mengenai ini akan saya bahas lebih lanjut di tulisan-tulisan dan video-video yang akan datang, tetapi saya akan berikan suatu contoh.

Contoh kebijakan yang akan semakin merusak mental kolektif kita adalah subsidi yang tidak tepat sasaran, misalnya dalam suatu rusun, orang yang tidak membayar sewa malah di bantu pembayarannya, yakinlah bulan depan akan semakin banyak orang yang tidak membayar sewa.

Dalam situasi seperti ini harusnya orang tersebut diberi pelatihan agar memiliki skill untuk dipergunakan membuat usaha kecil-kecilan atau bekerja sehingga dia bisa membayar sewanya. Jika kebijakan seperti ini yang di ambil, masyarakat yang tidak produktif akan menjadi produktif dan yang sudah produktif tidak akan menjadi iri dengan yang tidak produktif, sewa dapat terbayar dan pemerintah telah memberi solusi jangka panjang.

Tentunya kebijakan-kebijakan yang mengajak orang menjadi produktif ini akan sia-sia jika masyarakatnya menolak, harus ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Dari sudut gerbang utama negara ini saya bercurah pendapat.