Bagi pembaca yang belum mengenal sosok ini mungkin akan beranya-tanya siapa sosok yang ada di semua pecahan mata uang Rupee dari India ini. Dia bukan presiden pertama, bukan perdana mentri pertama, bukan jendral perang, bukan raja atau sultan tetapi wajahnya mendapat penghormatan begitu besar dari negara asalnya dan bahkan seluruh dunia, siapakah dia?

Mohandas Karamchand Gandhi merupakan seorang tokoh terkemuka yang selalu dibicarakan di seluruh dunia, pengaruh dan ajarannya menembus berbagai sekat bangsa dan negara.

Sosok yang dijuluki “orang yang berjiwa besar” ini memiliki pengaruh yang teramat melekat bagi bangsa India yang waktu itu berjumlah lebih dari 350 juta orang. Pengaruhnya yang begitu besar sangat kontras dengan sosoknya yang begitu kurus kecil dan sederhana.

Apa yang membuat Gandhi begitu istimewa?

Gandhi merupakan tokoh pertama di dunia yang berhasil mencapai tujuan dan mengakhiri penjajahan terhadap bangsanya tanpa perlu menembakkan sebutir peluru ataupun menumpahkan setetes darah musuhnya. Sosok sederhana ini berhasil mengusir penjajahan sebuah kerajaan paling kuat di dunia pada masanya tanpa sekali pun memukul, menusuk apalagi menembak lawannya.

Tentu ini diluar nalar kita. Sejauh yang kita ketahui, memperjuangkan kemerdekaan harus lah dengan senjata, pasukan yang banyak dan terlatih serta kesiapan untuk membunuh para penjajah. Gandhi membuktikan bahwa ada jalan lain, yaitu jalan tanpa kekerasan.

Ajaran tanpa kekerasan Gandhi telah banyak diikuti berbagai tokoh dunia lainnya dan yang paling terkenal adalah Martin Luther King Jr, seorang tokoh pejuang persamaan hak antar ras.

Ternyata logika kita yang salah, logika Gandhi lah yang benar. Di era modern ini telah banyak penelitian yang menemukan bahwa gerakan tanpa kekerasan 3 kali lipat atau bahkan lebih mungkin mencapai tujuan mereka dibandingkan gerakan yang menggunakan kekerasan. Luar biasa.

Terlebih ajaran super damai ini justru muncul setelah Gandhi mendapatkan perlakuan yang sangat-sangat tidak manusiawi, seperti diludahi di depan umum, diusir dari kereta, dipukuli karena lewat trotoar yang dikhususkan untuk masyarakat kelas atas, dan lain sebagainya. Uniknya perilaku seperti itu bukan membuat Gandhi menjadi pendendam yang beringas, malah sebaliknya, dia menjadi salah satu tokoh paling anti kekerasan dan paling pemaaf di seluruh dunia.

Gerakan tanpa kekerasan Gandhi bukanlah ciri sebuah kelemahan. dia pernah mengatakan “memaafkan berbeda dengan kepasrahan, orang baru bisa dibilang benar-benar memaafkan adalah ketika dia bisa membalas, tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya”.

Ya, dengan jutaan orang yang mengikuti pergerakannya, Gandhi bisa saja menjadi pimpinan dari pemberontakan besar dan mematikan bagi penjajah Inggris, tetapi dia menolak melakukannya. Baginya kebencian harus dilawan dengan cinta karena kebencian hanya akan menimbulkan lebih banyak kebencian.

Gerakan tanpa kekerasan Gandhi tidaklah berdiri sendiri, beliau tetap melakukan perlawanan TETAPI sangat-sangat mengharamkan kekerasa sekecil apapun. Gerakan tanpa kekerasannya dibarengi oleh gerakan “menolak bekerja sama” dan gerakan “boikot” yang diselenggarakan secara disiplin dan masif sehingga membuat sendi-sendi kekuatan penjajah rontok walaupun tanpa harus menembakkan sebutir peluru pun. Gandhi mengajak seluruh pengikutnya untuk menolak membayar pajak terhadap penjajah,  menolak mengikuti aturan penjajah, memboikot semua produk yg di produksi para penjajah, berhenti dari semua pekerjaan yang dimiliki oleh penjajah Inggris termasuk dari birokrasi, melepaskan semua gelar dan penghargaan yg pernah diberikan oleh kerjaan Inggris secara terang-terangan.

Salah satu praktek yang paling terkenal dari “gaya perjuangan” Gandhi ini adalah ketika dia dan puluhan pengikutnya melakukan jalan kaki lebih dari 250km menuju pantai untuk memprotes monopoli garam oleh pemerintah Inggris. Di akhir long march itu, rombongan yang tadinya hanya puluhan orang mencapai jutaan orang ketika telah mencapai tepi pantai, orang-orang bersimpati dan mengikutinya dengan suka rela. Di pinggir pantai, secara simbolis ia mengatakan bahwa “kami berhak mendapatkan akses pada garam tanpa harus diatur-atur oleh penjajah”.

Sepanjang perjalanan itu, jutaan orang tersebut dipukuli, ditembaki dan ditangkapi oleh tentara penjajah Inggris tetapi tidak satupun ada yang membalas. 80.000 orang ditangkap setelah kejadian itu termasuk Gandhi membuat pemerintah kolonial Inggris bingung sendiri karena penjara-penjara menjadi penuh, tidak ada ruang lagi sedangkan perlawanan damai tersebut semakin masif.

Gandhi juga tercatat sangat sering ditangkap dan keluar masuk penjara karena perlawanannya ini. Tetapi bukannya menjadi beringas di penjara dia malah melakukan protes lanjutan berupa “puasa sampai mati” yang justru membuat penjajah Inggris yang ketakutan setengah mati, karena kalau sampai Gandhi mati di penjara, bisa-bisa akan ada perlawanan super besar dari puluhan bahkan ratusan juta warga India yang benar-benar mencintainya.

Singkat cerita, perjuangan Gandhi berhasil mengusir penjajahan oleh kerajaan paling kuat di dunia tanpa harus menusuk atau menembak sekalipun.

Gandhi meninggal dibunuh oleh seorang ekstremis  karena dianggap terlalu memihak dan melindungi minoritas di negaranya. Dan ternyata pembunuhan tersebut justru semakin membuat ajarannya menyebar dan dihayati oleh lebih banyak orang melewati sekat-sekat bangsa dan negara.

Kehidupan Gandhi memang layak dijadikan pelajaran, terutama bagi orang-orang yang sedang memperjuangkan sesuatu. Ternyata ada jalan penuh cinta yang lebih mungkin mengantarkan kita sampai pada tujuan Individu maupun kelompok tanpa harus menyakiti satu makhluk pun. Di dunia ini banyak sekali kasus orang merasa berhak melakukan apapun dan dengan cara apapun termasuk kekerasan karena merasa sedang memperjuangkan kebenaran. Kebenaran apa yang harus diperjuangkan dengan kekerasan? Kudeta akan runtuh oleh kudeta, pemberontakan bersenjata akan runtuh oleh pemberontakan berikutnya, dan kekerasan hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan yang lebih besar.