Sebagaimana yang kita ketahui, masyarakat Indonesia merupakan salah satu masyarakat yang paling tinggi tingkat penggunaan internetnya di dunia tetapi merupakan salah satu yang terendah dalam tingkat minat membacanya di planet Bumi. Dampaknya, masyarakat yang tidak benar-benar memahami informasi yang membanjir melalui berbagai media, baik itu televisi, radio maupun -yang paling parah- informasi dari internet.

Keadaan ini dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para politikus dan pengusaha media dan orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan membuat keresahan di masyarakat dengan menyebarkan isyu-isyu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Politikus-politikus memanfaatkan keresahan-keresahan ini agar masyarakat lupa bahwa musuh bersama kita seharusnya adalah kekorupan mereka. bahkan keresahan ini ditunggangi oleh mereka untuk mendapatkan kekuasaan.

Banyak media juga bukannya melakukan tanggung jawab sosial mereka yaitu mencerdaskan masyarakat malah mengincar rating tinggi dengan judul dan berita yang bombastis dan menikmati “pukul-pukulan” antar masyarakat di kolom komentar yang membuat rating mereka semakin tinggi. masyarakan jadi menghabiskan energi mereka untuk pukul-pukulan memperebutkan pepesan kosong sedangkan uang mereka dijebol trilyunan rupiah tiap tahunnya oleh sebagian wakil rakyat dan kepala daerah mereka tanpa perlawanan berarti.

di artikel kali ini saya akan membahas kehebohan yang membuat masyarakat gontok-gontokan, pukul-pukulan, musuh-musuhan membahas sesuatu yang padahal mereka sendiri tidak terlalu mengerti, yaitu tentang utang negara. pemicu semua perdebatan tersebut? bisa dilihat contohnya dibawah ini.

utang jawapos - Copy

 

utang detik - Copy

 

utang kompas 2 - Copy

 

utang detik

 

utang bisnis

 

utang kompas

 

utang merdeka

 

utang kontan

 

utang 4000 T

 

utang tropong senayan

 

utang tribun

dapat dilihat sendiri headline berita-berita diatas. Jika portal berita resmi saja membawakan berita yang provokatif karena memberitakan sesuatu tanpa menjelaskan konteks dan pencerahannya, apalagi portal berita hoax?

Saya masih ingat sekali betapa mengerikannya headline-headline berita ketika harga dollar melambung tinggi berbanding rupiah, bahkan ada yang menyatakan Indonesia berada diambang krisis besar dan kebangkrutan, nyatanya? itu hanya gembar-gembor yang memancing klik anda dan menikmati keributan yang ditimbulkannya.

Bad news is good news

Kata-kata diatas merupakan rahasia umum di dunia jurnalistik. Manusia secara naluriah lebih tertarik membaca berita tentang kejadian buruk. Berikut contohnya, jika anda melewati sebuah stand koran, anda melihat dua headline yang berbeda. yang satu : “ekonomi Indonesia stabil”. lalu yang satu lagi : “Pengamat : Jika begini terus, negara terancam bangkrut”. kira-kira koran yang mana yang membuat anda penasaran untuk membacanya? Jadi jangan heran jika anda banyak membaca judul dan berita yang provokatif di berbagai media, mereka butuh klik anda.

Di part 2 nanti saya akan menjelaskan keadaan sebenarnya dari utang Indonesia. di part 1 saya akan menguliti kesewenang-wenangan berbagai media dalam membuat berita tanpa memperdulikan aspek pencerdasan masyarakat.

Contoh pertama, berita dari Jawapos yang mengatakan utang 1 tahun Jokowi sama dengan 30 tahun Soeharto sama sekali bukan berita, melainkan mengutip seorang pengamat. seharusnya Jawapos memberikan pembatas yang jelas antara berita yang merupakan fakta dengan opini seseorang, siapapun itu. entah ada apa dengan pengamat ini sehingga logikanya mengkalikan utang zaman soeharto dengan kurs dollar sebelum krismon dan membandingkannya dengan utang di zaman Jokowi dikalikan kurs dollar terbaru. mungkin pengamat ini terlalu pintar sehingga lupa membandingkan kedua utang tersebut tinggal dibandingkan saja angkanya dan bahkan utang era Soeharto yang justru seharusnya dikalikan lagi dengan inflasi bukan sebaliknya. Saran saya, jika berita mengutip pernyataan pengamat, cari tau dulu pengamat itu siapa dan seberapa berkompeten dia, karena siapapun bisa melabeli diri sebagai pengamat.

contoh kedua, soal kenaikan utang yang ditulis beratus-ratus trilyun, sama sekali tidak dijelaskan pos penggunaannya, lalu perbandingannya dengan pertumbuhan ekonomi, serta utang-utang terdahulu. Ini sama saja tiba-tiba memberitakan “Si Fulan berhutang ke bank Rp.10.000.000!!”. tanpa penjelasan lebih lanjut, padahal bisa saja si Fulan merupakan pengusaha kaya yang asetnya milyaran dan meminjam uang untuk mengembangkan usahanya.

contoh ketiga, menyebutkan angka bombastis seperti 4.000++ Trilyun tanpa menjelaskan bahwa kadar utang segitu masih sangat-sangat normal dan aman. terlebih jika kita membandingakan dengan negara lain, hal ini akan saya bahas lebih jauh di part 2. Ini merupakan misleading besar karena angka-angka tersebut terlalu bombastis untuk dapat dicerna oleh masyarakat awam. Tentu saja angka tersebut SANGAT SANGAT BESAR, tetapi apakah sama besarnya jika kita berbicara dalam skala sebuah negara?

contoh keempat, membahas penambahan utang ke Tiongkok seolah-olah bombastis, jelas-jelas ini hanya menunggang sentimen SARA karena berita seperti ini pasti akan cepat disambar oleh “netizen”. Berita ini disajikan tanpa menjelaskan bahwa utang Indonesia ke Tiongkok masih sangat kecil jika dibandingkan utang kita ke negara lain. tidak dijelaskan pula bahwa hampir seluruh negara di dunia termasuk Amerika Serikat berlomba-lomba berutang ke Tiongkok karena mereka memang “sedang banyak uang”. Yang dihasilkan dari headline seperti ini hanyalah perkelahian netizen dan komentar-komentar rasis dan bodoh.

contoh kelima, Koran yang mengatakan Indonesia sudah tak mampu bayar utang, jelas-jelas merupakan pernyataan yang tidak berdasar karena level utang Indonesia masih aman dan pembayarannya masih sangat terkendali. Cicilan dan bunga utang hanya 10% dari pengeluaran APBN. Analoginya bagaikan orang yang bergaji 20 juta membayar cicilan 2 juta, tentunya masih sangat terkendali. entah pemikiran siapa yang dijadikan headline koran tersebut.

Kita lanjut part 2 yah.