Keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel laksana petir di siang bolong dalam percaturan geopolitik. Semenjak pemerintahan Obama, Amerika Serikat seperti kurang bersemangat untuk terlibat di dalam konflik di Timur Tengah kecuali dalam beberapa keterlibatan terbatas seperti di Suriah dan Libya.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh kegagalan besar perang Irak yang justru menyebabkan destabilisasi lebih besar di kawasan timur tengah dan menjebak Amerika dalam perang yang mahal, berkepanjangan dan sia-sia. Ditambah lagi dengan ditemukannya metode Fracking di indutri pengeboran minyak Amerika yang menyebabkan berkelimpahannya produksi minyak Amerika Serikat sehingga menyebabkan mereka tidak terlalu berkepentingan terhadap timur tengah dan minyaknya.

Trump yang sepertinya sedang disibukkan oleh Korea Utara justru tiba-tiba mengumumkan sesuatu yang mengancam ketidak-stabilan lebih jauh di Timur Tengah. Terbukti hanya dalam hitungan hari Organisasi Kerjasama Islam (OKI) langsung melangsungkan pertemuan luar biasa membulatkan suara menentang pernyataan sepihak oleh Trump. Karena bagi Negara-Negara berpenduduk mayoritas Islam terlepas dari apapun kepentingan dan posisinya, status Yerusalem dan Palestina merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Terbukti bahkan Iran dan Saudi Arabia yang banyak melakukan perang proksi di berbagai wilayah satu suara menanggapi persoalan ini.

Uni Eropa satu suara menentang pernyataan Trump, diikuti oleh resolusi dewan keamanan yang hampir pasti akan menjatuhkan sanksi andaikata tidak di veto oleh Amerika Serikat. kini majelis umum PBB pun mayoritas mutlak telah menolak pernyataan Trump mengenai status Yerusalem ini walaupun Amerika mengancam akan menghentikan bantuan bagi Negara manapun yang menentang Amerika dalam persoalan ini. Tetapi terbukti dari ratusan Negara di dunia hanya 9 Negara yang berpihak kepada Amerika dalam persoalan ini, Trump justru membuat Amerika menjadi seperti macan kertas karena ancamannya sama sekali tidak ditakuti oleh hampir seluruh Negara di dunia ini.

Pertanyaan berikutnya apakah yang mungkin terjadi selanjutnya? Majelis umum PBB tidak memiliki kekuatan mengikat apalagi memaksa terutama ketika berhadapan dengan Negara sekuat Amerika Serikat. semua kembali lagi kepada kekuatan-kekuatan di dunia terutama Negara-Negara mayoritas Islam apakah dapat mengesampingkan berbagai konflik dan kepentingan dan bersatu demi Palestina? Seperti kita ketahui di dalam Negara Palestina sendiri dikuasai oleh 2 faksi yang selalu bermusuhan yaitu Hamas dan Fatah. Padahal gabungan beberapa Negara Timur Tengah saja pernah berkoalisi untuk menghadapi Israel tetapi mengalami kekalahan tragis beberapa kali, apalagi kalau masih terpecah-belah seperti saat ini.

Akankah Saudi Arabia dan Iran saling mengesampingkan permusuhan antara mereka berdua demi Palestina? Karena sejauh ini bagi Saudi Arabia, kekuatan Iran merupakan ancaman yang lebih nyata dibandingkan Israel. Bayangkan energi dan biaya yang dihabiskan Negara-Negara Islam dalam perang saudara di Suriah, Irak, Yaman, Libya dan berbagai wilayah lainnya yang sebenarnya bisa digunakan untuk kemajuan bersama.

Mari kita tunggu aktifitas geopolitik ini kedepannya.

Semoga solusi manapun yang diambil adalah jalan yang tidak “diaspal” dengan pertumpahan darah.

 

Dari sudut gerbang utama Negara ini saya bercurah pendapat.

 

Advertisements