Seluruh dunia sedang mengalami gejala besar yang memang selalu menjadi kelemahan dan penyakit bawaan dalam demokrasi, penyakit tersebut bernama populisme.

Populisme sering dijadikan alat maupun tuduhan oleh para politikus di manapun, baik sebagai senjata untuk mengumpulkan dukungan bagi dirinya sendiri maupun menjadi serangan bagi lawan politiknya.

Penjelasan paling sederhana dari sebuah populisme adalah, menjanjikan dan mengerjakan apa yang diinginkan oleh masyarakat walaupun sebenarnya mungkin hal tersebut bukan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Analogi sederhananya adalah ibarat orang tua yang selalu memberikan apapun yang diminta oleh anaknya. Anaknya malas tidur teratur, diizinkan. Anaknya mau terus menerus makan dan minum yang mengandung gula, diberikan. Anaknya malas sekolah dan belajar, dituruti. Anaknya malas bekerja, disokong dan diberikan uang terus menerus oleh orang tuanya. Kira-kira anak seperti apakah yang akan dihasilkan dengan cara mendidik seperti itu?

Anak yang kacau balau.

Jika jawaban anda kurang lebih sama dengan saya, berarti kita berada di halaman yang sama, meyakini bahwa populisme merupakan sesuatu yang tidak sehat dalam perpolitikan.

Jika diterjemahkan dalam perpolitikan, Presiden yang ingin terpilih dan terus terpilih dalam setiap pilpres tinggal melakukan hal seperti itu.

Menjanjikan dan menghabiskan anggaran Negara untuk memberi bantuan tunai, mensubsidi listrik, gas, BBM, sembako, dan sebagainya hingga menjadi murah. “menyiksa” orang kaya dan para pebisnis dengan pajak dan regulasi gila-gilaan dan membagi-bagi hasilnya secara tunai kepada kelompok-kelompok tertentu, menaikkan gaji minimum secara signifikan ke tingkat yang tidak proporsional, Membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang memiliki pengaruh besar secara elektoral, membuat acara-acara yang tidak penting dan lain sebagainya.

Sama seperti analogi anak kecil diatas, pimpinan Negara yang seperti ini mungkin akan disukai dan dipilih lagi karena membuat kehidupan masyarakat kebanyakan menjadi “enak” dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang akan sangat mematikan karena akan membuat daya juang bangsa menjadi lemah.

Padahal secara singkat yang dibutuhkan oleh suatu Negara adalah membangun daya saing masyarakat dengan iklim usaha yang kodusif, membangun mental masyarakat agar menjadi “mampu” bukannya “minta dibantu”, menindak tegas pelanggaran hukum tanpa pandang bulu, menggunakan anggaran untuk membangun berbagai fasilitas penunjang usaha dan berbagai kebijakan yang kedengarannya tidak terlalu menarik lainnya.

Sekarang keputusan berada di para elite negeri ini, apakah mau menjadi pemimpin yang terpilih lagi dan lagi dengan mengambil kebijakan yang enak namun melemahkan masyarakat dalam jangka panjang. Atau menjadi pemimpin yang bersedia namanya diserang dan dihujat demi mengambil kebijakan bagus secara jangka panjang namun tidak popular, urusan dipilih lagi ataupun tidak bukan jadi yang utama, kepentingan bangsa jangka panjang lah yang utama.

Negara yang berhasil bukanlah yang semakin hari semakin banyak warganya yang dapat mereka bantu, melainkan Negara yang makin lama makin sedikit masyarakatnya yang membutuhkan bantuan.

Dari sudut gerbang utama Negara ini saya bercurah pendapat.

 

Advertisements