Mentri perhubungan Budi Karya memang orang pintar, pernah menjadi dirut di beberapa perusahaan, tapi nampaknya agak galau menghadapi kemajuan zaman yang ditandai dengan “onlineisasi” (bukan kata sebenarnya) dunia transportasi.

Bapak budi bikin regulasi tentang transportasi online, padahal kalau kita mau jujur transportasi online memang tidak mungkin memenuhi regulasi yang “kuno”. Berdasarkan undang-undang, motor tidak diperbolehkan menjadi angkutan umum. berdasarkan regulasi juga mobil plat hitam tidak boleh menjadi angkutan umum.

Tapi ingat, aturan dibuat untuk mengawal manusia, bukan mengekangnya.

Atur saja seperlunya, jangan kebanyakan.

Ingat transportasi online. telah memekerjakan lebih dari 200.000 orang, dan memudahkan pergerakan jutaan orang dan barang (serta makanan) setiap hari.

Sebaiknya bapak budi duduk tenang dan konsultasi dengan para ahli ekonomi dan transportasi.

Apa saja sih yang perlu diatur di dalam industri transportasi?

Soal safety dan kelaikan kendaraan saja kan seharusnya?

Buat apa atur badan hukum pengendara dan kendaraannya? buat apa atur tarifnya? buat apa atur kuotanya?

Kewajiban berbadan hukum akan membuat banyak orang terlempar dari industri ini, apa bapak kira mengurus perizinan di republik ini mudah? (ssst, saya kasih tau jawabannya, masih SUSAH banget)

Memangnya kalau tidak berbadan hukum kenapa?

Kalau perusahaan transportasi online merekrut asal-asalan dan drivernya berkualitas buruk dan kendaraannya tidak laik, perusahaan itu akan ditinggal dan penumpang akan beralih ke kompetitor. untuk apa pemerintah ikut-ikutan mengurus itu?

Tapi pengaturan soal badan hukum masih mending lah…

Yang parah itu pengaturan batas tarif atas dan tarif bawah.

Buat apa bapak Budi?? Buat apaaaaaa??

Batas arif bawah buat apa?? Bukankah tarif murah menguntungkan pengguna? pengaturan tarif bawah justru akan mematikan persaingan karena pendatang baru dan pemain kecil akan digilas oleh penguasa pasar.

Bagaimana pendatang baru dan pemain kecil mau bersaing dengan penguasa pasar yang sudah punya nama, jaringan dan armada banyak kalau harga mereka sama?

Matinya persaingan seperti ini sebenarnya sudah terlihat di industri taksi konvensional. Perusahaan taksi kecil tidak bisa bersaing dengan penguasa pasar karena tarif mereka sama. mereka dilarang menetapkan tarif lebih murah.

Mana ada orang yang mau naik taksi yang merknya tidak terkenal kalau harganya sama dengan taksi merk terkenal?

Alasan bapak Budi, harga murah adalah agar penyedia layanan transportasi memiliki uang lebih untuk menservis kendaraannya.

pak, apakah bapak yakin kalau mereka untung besar mereka akan menjaga kelaikan kendaraan mereka? belum tentu pak.

Kalau memang itu alasannya, lebih baik bapak atur kewajiban kelaikan kendaraan, mungkin bisa berupa sertifikat atau semacamnya. Daripada atur tarif yang menyengsarakan pengguna dan penyedia transportasi, lebih baik bapak atur saja kewajiban perbaikan kendaraan, semua menang semua senang.

Satu lagi soal kuota. Buat apa bikin kuota-kuotaan, yang pastinya akan rawan kepentingan-kepentingan dan transaksi dibelakang layar. Perusahaan transportasi online ini buka banyak lapangan kerja loh pak, masa orang buka lapangan kerja dibatas-batasi dan dipersulit?

Jangan bilang alasannya untuk melindungi angkutan umum konvensional pak, melindungi suatu industri itu bukan dengan menghambat kemajuan.

Kenapa angkutan bermesin tidak dipesulit untuk melindung penyedia jasa becak atau delman?

Tentu jawabannya karena kita TIDAK BISA melawan perkembangan zaman.

Begitu juga di sektor transportasi pak, kemajuan tidak bisa kita lawan.

Lebih baik bapak berfokus agar para penyedia layanan transportasi konvensional bisa menunggangi ombak kemajuan, bukan malah tergulung didalamnya.

Jangan sampai regulasi malah mencoba menggulung para penunggang ombak kemajuan.

Dari ibukota negara ini saya bercurah pendapat.