Nampaknya banyak pejabat-pejabat di negara ini yang lupa bahwa mereka bukanlah raja dan menganggap masyarakat adalah hamba mereka. Mungkin mereka merasa menjadi raja-raja kecil yang berhak mengatur setiap gerak-gerik kita yang mereka anggap sebagai hambanya.

Pejabat itu pelayan, titik. mereka makan dari uang gaji dan usaha kita yang dipotong setiap bulan dan setiap transaksi ekonomi, kita belanja, kita bepergian, kita menghasilkan uang akan dipotong oleh negara yang sekian persennya akan sampai ke tangan para pejabat. Para pejabat memberi makan anak dan istrinya, menyekolahkan anaknya dengan uang kita, sedangkan kita tidak butuh dan tidak menerima se rupiah pun dari mereka.

Dengan penjabaran diatas seharusnya sudah jelas siapa yang atasan dan siapa yang bawahan.

Kalau sudah jelas posisinya seperti itu, menurut anda yang manakah yang merupakan tugas para pelayan tersebut?

  1. Menjalankan pemerintahan dengan kondusif, memudahkan urusan-urusan kita, berfokus meningkatkan pelayanan publik, membenahi infrastruktur dan sebagainya. atau,
  2. Membuat aturan-aturan tidak penting yang mengatur-atur urusan pribadi kita.

Untuk yang memilih jawaban nomer dua silahkan berhenti membaca artikel ini, karena dalam artikel ini saya merupakan bagian dari seorang atasan yang tidak mau diatur-atur untuk urusan yang tidak penting oleh pelayannya.

Jika kita bicara aturan-aturan penting yang menjaga ketentraman dan keamanan masyarakat tentu itu sangat diperlukan oleh masyarakat, dan memang itu salah satu tugas utama kepala daerah dan orang-orang di pemerintahan.

Tapi kalau kepala daerah sibuk berstatement dan membuat peraturan-peraturan seperti melarang valentine dan urusan-urusan moralitas lainnya saya jadi mulai bertanya-tanya, “pelayan-pelayan ini tugasnya apa sih?”

Daerahnya masih pada miskin kok sudah mengurusi hal yang bukan urusannya. Silahkan baca lagi kewajiban anda di undang-undang, tidak ada satupun tugas anda mengurusi moral. baca.

Saya sendiri tidak merayakan sedikitpun valentine dari dulu sampai sekarang, karena tidak penting juga, tapi kalau sampai kepala daerah mengurusi urusan tidak penting seperti ini, saya sangat keberatan.

Menjaga moral dan rawan penyimpangan katanya, percayalah ada atau tidak ada valentine, yang anda sebutkan barusan tidak ada bedanya. Tidak ada orang baik yang jadi rusak hanya karena merayakan valentine, sebaliknya tidak ada seorang bajingan yang menjadi baik hanya karena tidak merayakan valentine.

Kalau urusan surga neraka, sebaiknya anda-anda lebih berhati-hati karena jika anda menzalimi rakyat, dosanya jutaan kali lebih besar daripada merayakan valentine.

Dari kota penyangga ibukota ini saya bercurah pendapat.

Advertisements