Rasa-rasanya hampir tidak mungkin ada orang yang tidak mengetahui negara Saudi Arabia, sebuah negara kaya minyak di Timur Tengah yang di dalamnya terdapat kota Mekkah dan Madinah yang merupakan dua kota tersuci bagi umat Islam.

Yang mungkin banyak luput dari pengamatan orang kebanyakan adalah perpolitikannya. Dari awal berdirinya, Saudi Arabia (Kingdom of Saudi Arabia/KSA) menganut sistem monarki dimana tampuk kerajaan dijabat bergilir oleh keturunan dari raja Abdulaziz “ibn Saud”. Keunikan jalur suksesi KSA adalah, tidak seperti negara lain dimana takhta akan diturunkan kepada anak tertua dari raja, di Saudi Arabia takhta akan diturunkan ke adik dari raja yang meninggal.

Raja Ibn Saud memiliki beberapa istri dan banyak anak yang membentuk klan-klan tersendiri.

Tiap-tiap klan, berdasarkan “perjanjian tidak tertulis” di dalam kerajaan, memiliki hak terhadap suatu posisi penting di dalam kerajaan.

Raja Salman nampaknya menyadari bahwa KSA akan sangat sulit beradaptasi dengan persaingan dunia jika tetap menggunakan jalur suksesi seperti sekarang, karena kerajaan akan selalu dipimpin oleh seorang raja yang sudah sangat tua. Sehingga dalam sebuah gebrakan yang sangat mengejutkan, Raja Salman menyingkirkan adiknya dari jalur suksesi dan mengalihkannya kepada keponakannya yang berasal dari klan yang sama dengannya, lalu tidak berapa lama kemudian menyingkirkan lagi keponakannya dan mengangkat anak kandungnya, Muhammad bin Salman sebagai putra mahkota.

Gebrakan Raja Salman bisa dibilang merupakan langkah yang tidak terfikirkan sebelumnya, membutuhkan keberanian yang besar bahkan bagi seorang aja sekalipun untuk medobrak tradisi dan tata cara kerajaan yang telah berjalan selama puluhan tahun.

Akan sulit bagi seorang Raja berumur diatas 70 apalagi 80 tahun untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan persaingan geopolitik yang sangat sengit di timur tengah.

Tentunya langkah Raja Salman ini mendapatkan penentangan “senyap” dari klan-klan lain yang menganggap sang Raja mengumpulkan kekuasaan bagi keluarga dan klan nya sendiri dengan menyingkirkan tradisi dan klan-klan yang lain.

Muhammad bin Salman (MBS) sudah dikenal sebagai “Mr Everything” di kalangan masyarakat Saudi Arabia, karena sejak usia yang sangat dini putra mahkota Muhammad bin Salman sudah memegang berbagai posisi penting di kerajaan tersebut, bahkan saat ini putra mahkota Muhammad bin Salman memegang beberapa posisi secara bersamaan, antara lain :

Wakil perdana mentri

Presiden dewan urusan pengembangan ekonomi

dan mentri pertahanan.

semua jabatan itu dipegang di usianya yang baru 32 tahun.

Hampir seluruh pengamat politik internasional bersepakat bahwa saat ini putra mahkota Muhammad bin Salman adalah pengendali sebenarnya kerajaan Saudi Arabia.

Bersambung ke part 2 : Muhammad Bin Salman, sang reformis.