Sebagai generasi muda, Muhammad bin Salman sadar bahwa negaranya tidak bisa bergantung pada pemasukan dari minyak semata. Ditengah anjloknya harga minyak dunia seperti saat ini, Saudi Arabia yang 97% ekspornya berasal dari penghasilan minyak sangat terguncang bahkan terancam bangkrut jika kondisi seperti ini terus berlangsung.

Selain mengurangi tunjangan dan belanja para anggota kerajaan, putra mahkota MBS juga mengepalai sebuah proyek bernama Vision 2030 yaitu sebuah proyek ekonomi yang mempersiapkan Saudi Arabia untuk tidak lagi bergantung pada penghasilan dari minyak. Dimulai dengan menjual saham perusahaan minyak milik negara Saudi Arabia, Saudi Aramco.

Beberapa reformasi yang dilakukan pangeran MBS adalah mengizinkan kaum perempuan untuk menyetir sendiri, mengizinkan kaum perempuan menonton acara olahraga di stadion dan membangun sebuah kota yang nantinya bahkan orang bisa berpakaian bebas termasuk bikini, sebuah kota yang dinamai Neom.

Neom artinya adalah “masa depan baru” (Neo = Baru, M diambil dari kata Mustaqbal yang artinya masa depan), MBS ingin menjadikan Neom sebagai sebuah smart city untuk bersaing dengan Dubai dan Doha untuk menarik investasi asing dan turis, ini semua adalah bagian dari Visi 2030 Saudi Arabia yang digawanginya.

Hampir semua reformasinya ini mendapatkan penentangan dari kalangan ulama konservatif yang selama ini berbagi kekuasaan dengan Dinasti kerajaan Saudi Arabia, rencana MBS untuk melegalkan Minuman beralkohol di Neom pun terpaksa diurungkan karena mendapat penentangan keras dari kalangan ulama.

Sebagai gantinya, Kerajaan Saudi Arabia menangkap dan memenjarakan beberapa ulama garis keras yang sering berceramah menentang pemerintah. Tindakan ini tentunya mengguncang kestabilan pembagian kekuasaan di kerajaan tersebut, selama ini seluruh raja di Saudi Arabia saling berbagi kekuasaan dan saling mendukung dengan para ulama termasuk yang garis keras sekalipun, diantara keduanya tidak pernah saling mengganggu.

Pangeran Muhammad bin Salman juga melakukan “pembersihan” dengan menangkapi belasan pangeran, mantan menteri dan berbagai pengusaha yang terindikasi korupsi, banyak pengamat menilai penangkapan ini sebagai bentuk konsolidasi kekuasaan oleh pangeran MBS untuk menyingkirkan dan mengertak semua penentangnya.

Di bidang geopolitik pangeran Muhammad juga melakukan hal yang sangat berbeda dengan para pendahulunya, ditangannya sebagai Menteri pertahanan, Saudi Arabia semakin sengit dalam perang dinginnya dengan Iran, keterlibatan besar-besaran di Suriah, dan serangan besar-besaran terhadap pemberontak Houthi di Yaman dan keterlibatannya dalam perebutan kekuasaan di lebanon membuat Saudi Arabia semakin ditakuti di wilayahnya dan semakin memanaskan wilayah Timur Tengah yang selama ini memang jarang sepi dari konflik. khusus urusan geopolitik ini akan saya bahas di lain waktu di kategori internasional.

Kemungkinan besar kita akan terus menyaksikan sepak terjang calon raja ini kedepannya, akan dibawa kemanakah Saudi Arabia oleh putra mahkota Muhammad bin Salman? kita saksikan sendiri.