Sebenarnya perang antara keduanya sudah pernah terjadi dulu di tahun 1950-1953, Amerika Serikat menurunkan bala tentara dibawah bendera PBB untuk memukul balik pasukan Korea Utara yang hampir saja menguasai seluruh semenanjung korea.

Amerika serikat tidak ingin lebih banyak negara yang jatuh ke genggaman komunisme sehingga mati-matian mempertahankan Korea Selatan yang kapitalis.

Kedudukan pun berbalik sehingga pasukan Korea Utara berhasil dipukul mundur sampai hampir dikalahkan sepenuhnya.

Singkat cerita, RRT dan Uni Soviet turun menyelamatkan rezim Korea Utara yang hampir runtuh. Penyelamatan ini lebih banyak berkaitan dengan perang pengaruh antar tiga negara besar tersebut. RRT dan Uni Soviet tidak bisa membiarkan Korea Utara runtuh yang artinya membiarkan musuh (Korea Selatan dan Amerika Serikat) berada tepat di pintu gerbang mereka, dan kemungkinan jutaan warga Korea Utara mengungsi ke wilayah mereka yang pada gilirannya akan menjadi beban bagi perekonomian kedua negara tersebut.

Semenjak Kim Jong-Il meninggal dunia, sang anak Kim Jong-Un mengambil alih kekuasaan absolut sang ayah dan mengkonsolidasikan kekuatan dengan kecepatan dan ketepatan yang mengejutkan. Tidak ada gejolak sedikitpun di negara tersebut walaupun seorang yang masih “hijau” mengambil-alih negara tersebut.

Rahasianya adalah, Kim Jong-Un tidak main-main menunjukkan kegarangannya sehingga menciutkan nyali siapapun yang mencoba macam-macam dengan kekuasaannya.

Tercatat pamannya dan kakak tirinya sendiri diduga telah dieksekusi dengan perintah langsung dari dirinya.

Selain eksekusi tanpa ampun terhadap keluarga dekatnya sendiri, Kim juga menunjukkan kegarangannya keluar dengan meng-intensifkan pengembangan senjata nuklir yang membuat dunia resah terutama Amerika Serikat yang memiliki dua sekutu besar di kawasan, Korea Selatan dan Jepang.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa Amerika Serikat masih menahan diri dari menyerang Korea Utara walaupun telah banyak provokasi yang dilakukan negara kecil tersebut terhadap negara terkuat di dunia itu?

Jawabannya adalah, sama seperti pada tahun 50an, Tiongkok akan mempertahankan keberadaan Korea Utara dengan alasan yang sama dengan intervensinya lebih dari 60 tahun yang lalu.

Dengan perlindungan dari Tiongkok dan kekhawatiran merusak reputasinya lebih jauh, Amerika Serikat akan sangat sulit untuk menggunakan senjata nuklirnya untuk menetralisir kekuatan tempur Korea Utara.

Padahal.

Seluruh pilihan lain selain serangan nuklir akan memiliki resiko besar bagi kedua sekutu Amerika Serikat di kawasan.

Satu kesalahan langkah maka Tokyo dan Seoul bisa diluluhlantakkan dengan kekuatan nuklir dan altileri Korea Utara. Ketakutan akan kejadian itulah yang menyebabkan Jepang dan Korea Selatan seperti “ogah” terlibat dengan konflik antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Tanpa bantuan Jepang dan Korea Selatan, penyerangan terhadap Korea Utara bisa dibilang merupakan “Mission Impossible”. Jarak ribuan kilometer antara Amerika Serikat dan Korea Utara membuat invasi konvensional akan sangat mustahil secara logistik, belum lagi mempertimbangkan bantuan dari RRT terhadap Korea Utara.

Jadi Amerika Serikat yang sangat perkasa berada dalam posisi “remis” melawan negara kecil Korea Utara.

Tetapi semua masih bisa terjadi mengingat Kim Jong-Un dan presiden Amerika Serikat Donald Trump merupakan dua orang yang tidak bisa diprediksi tindakannya.

Tentu yang terbaik adalah kedamaian.

Dari kota penyangga ibukota negara ini saya bercurah pendapat.

 

Advertisements