Era informasi membuat kita mendapatkan berita dari segala penjuru, baik itu saluran berita resmi maupun sesuatu yang menjadi viral di sosial media. Biasanya sih yang viral di media sosial ujung-ujungnya akan diangkat juga sebagai berita oleh media arus utama.

Yang sempat menghebohkan beberapa saat kebelakang adalah berita mengenai berbagai pelecehan seksual yang sempat menggegerkan sosial media.

Masih sangat kentalnya kultur dominasi laki-laki di negara kita agaknya membuat banyak korban takut untuk mencari pertolongan terhadap pelecehan yang menimpa dirinya.

Bahkan tak jarang korban perkosaan yang tidak berani melaporkan musibah yang dialaminya karena takut akan pandangan buruk dari masyarakat.

Kenapa ini bisa terjadi?

Jawabannya jelas tergambar dari berbagi dialog yang berseliweran di sosial media. pada umumnya sebagian laki-laki setengah memaklumi sebuah pelecehan yang dialami seorang perempuan dan membebankan setengah kesalahan dari kejadian tersebut pada sang korban.

Masyarakat banyak yang memiliki mentalitas menyala-nyalahkan korban.

“ya pantas saja mendapatkan perlakuan seperti itu, salah sendiri menggunakan pakaian yang minim”

pola kalimat seperti itu SERING sekali kita jumpai dalam percakapan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

dan menurut saya benak yang bisa-bisanya berfikir seperti itu sungguh-sungguh menjijikkan.

Apakah dengan berpakaian sesuai yang dia kehendaki seorang wanita menjadi boleh diperlakukan secara hina?

Apakah dengan mengenakan pakaian yang dia mau, perbuatan pelecehan terhadapnya menjadi “setengah benar”?

Saya juga seorang laki-laki, saya tidak tau se minim apa pakaian dari wanita yang dilihat oleh para pelaku pelecehan itu, tetapi seumur hidup tidak sekalipun terlintas di benak saya fikiran untuk melakukan pelecehan terhadap siapapun yang mengenakan pakaian apapun.

Dan faktanya, wanita dengan pakaian seperti apapun ADA yang jadi korban pelecehan.

Jadi sudahi pemikiran anda pada titik : “pelaku pelecehan seksual adalah seorang yang hina”

jangan ditambah dengan fikiran setegah pembenaran dengan cara menyalahkan korban.

Jangan membawa permasalahan ini kesana kemari, karena faktanya seorang perempuan bisa berjalan dengan aman mengenakan baju seperti apapun di Jerman, Jepang, Singapura, Hong Kong.

Masalahnya bukan terletak di bajunya, tetapi di fikiran busuk pelakunya.

Tidak ada pembenaran sebutir debu pun untuk sebuah tindak pelecehan.

Dari kota penyangga ibukota negara ini saya bercurah pendapat.