Kadang ada yang lucu ketika para politikus membicarakan ekonomi. Yang sering keluar dari mulut mereka adalah pencitraan-pencitraan elektoral yang tidak memiliki nilai jika kita bicara mengenai perekonomian.

Bahkan terkadang demi pencitraan elektoral, seorang politikus bisa-bisanya merasa lebih tau tentang perekonomian dibandingkan para professor di bidang ekonomi.

Sebuah negara yang menjalankan perekonomian hanya dengan mengikuti nafsu elektoral adalah bagaikan tertawa terbahak-bahak di dalam mobil yang sedang mengarah ke dalam jurang.

Seperti apakah sistem perekonomian itu? yaitu perekonomian yang menitikberatkan pada subsidi dan proteksionisme.

Jelas saja berbagai subsidi akan menekan kenaikan harga dan membuat rakyat senang dalam kondisinya sekarang.

Tapi dalam jangka panjang, uang negara yang terbatas hanya akan habis untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tidak menyediakan porsi untuk mengembangkan negara tersebut untuk maju.

Pertanyaannya, negara kita ini mau maju atau mau sekedar jalan ditempat?

Politisi yang hanya mengejar pencitraan elektoral pasti akan sangat getol menggalakkan subsidi. Jelas sekali rakyat yang menerima bantuan langsung pasti akan jadi lebih ringan bebannya dan akan memilih si pemberi subsidi lagi.

Tapi, memangnya negara ini mau sampai situ saja? apa tugas negara hanya menjadi pengumpul dan pembagi-bagi uang? tentu tidak. Tujuan akhir kita seharusnya adalah sampai tidak ada lagi masyarakat yang memerlukan subsidi.

Subsidi merupakan kebijakan yang “terdengar bagus” tapi berdampak buruk.

Langkah ekonomi yang merupakan pencitraan elektoral berikutnya adalah proteksionisme.

Proteksionisme adalah menjaga pasar lokal dari barang-barang dari luar (impor). Caranya bisa dengan berbagai macam, diantaranya dengan :

  1. Melarang sama sekali barang jenis tertentu dari luar masuk.
  2. Mengetatkan kuota impor barang tertentu.
  3. Meninggikan pajak dan tarif terhadap barang-barang impor.

Sekilas kebijakan seperti ini (lagi-lagi) terdengar bagus. dengan berbagai jargon seperti “berdikari”, “kedaulatan”, “melindungi petani/peternak” dan lain-lain, politisi memainkan kartu nasionalisme salah arah untuk memperlihatkan “keberpihakannya” kepada petani, peternak dan lain-lain.

Padahal, cara untuk melindungi petani dan peternak bukanlah seperti itu.

Saya akan berikan analogi sederhana.

Murid anda mendapat nilai 4 dalam ujian, padahal nilai kelulusan minimal adalah 7. Sebagai seorang guru, bagaimanakah cara anda “menolong” murid tersebut?

  1. Menurunkan nilai kelulusan menjadi 4
  2. Mengajari murid anda sampai bisa mendapatkan nilai 7 atau lebih

Jika kita waras, tentu saja jawabannya adalah nomer 2. Lalu kenapa untuk urusan impor kita mesti memandangnya secara berbeda?

Melindungi dan menolong petani bukanlah dengan membiarkan sektor pertanian dan peternakan carut marut dan tidak efisien lalu melarang impor dengan alasan melindungi petani dan peternak tersebut.

Jika tata kelola pertanian dan peternakan carut marut dan tidak efisien, maka yang akan menderita adalah puluhan juta rumah tangga konsumen berbagai kebutuhan pokok, karena harga akan menjadi mahal. Lalu jalan keluar dari mahalnya harga ini dengan subsidi? ini namanya kehancuran yang dipelihara.

Melindungi dan membantu petani/peternak HARUS dengan cara membantu mereka meningkatkan kualitas dan menghilangkan hambatan APAPUN yang bisa membuat produksi mereka bisa seefisien mungkin.

Jika beras dari Vietnam dan Thailand serta daging dari Australia dan New Zealand bisa lebih murah daripada produk lokal yang sama, PASTI ada yang salah dengan kita.

Apakah kesalahan itu? Konektifitas? benahi. Perizinan? Permudah. Keilmuan dalan bidang pertanian dan peternakan? berikan.

Jika ada politikus yang hanya berkoar-koar akan membuat semua murah-murah-murah dan setop impor, dia tidak sedang berbohong, karena memang itu bisa saja dicapai. Tetapi politikus tersebut sedang menipu anda karena mereka sengaja memelihara kebodohan dan kekacauan hanya untuk pencitraan elektoralnya.

Mari kita pilih yang mengusahakan perbaikan, bukan hanya yang jual “murah-murah-murah”

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti