Menyambung tulisan saya kemarin, masyarakat luas seringkali sengaja dibuat buta mengenai ekonomi apa yang baik untuk sebuah negara oleh para politikus.

Berbagai jargon gagah-gagahan memang lagi-lagi “terdengar bagus”. Ide bahwa sebuah negara bisa mencukupi seluruh kebutuhannya sendiri, tidak memerlukan bantuan dan kerjasama dari negara lain memang selalu memancing sebuah romansa heroisme seperti mendengar kisah-kisah perjuangan masa lampau.

Tetapi apakah hal tersebut memungkinkan dan baik jika ditinjau dari segi ekonomi?

Nasionalisme salah arah yang sering digembar-gemborkan oleh para politisi menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa :

  1. Investasi asing
  2. Impor
  3. Pekerja asing
  4. Privatisasi

Adalah perwujudan syaitan yang harus dihindari sedemikian rupa. Karena Investasi dianggap sebagai menjual negara ini ke tangan asing. Impor adalah bukti bahwa negara telah “gagal” memenuhi kebutuhan. Pekerja asing adalah penjajahan ditengah banyaknya pengangguran dalam negeri. Privatisasi adalah setan yang membuat aset negara kita dikuasai segelintir orang.

Kalimat-kalimat itu yang sering kita dengar ketika politisiĀ berbicara tentang ekonomi, tetapi apakah 100% benar seperti itu?

Mari kita debunk satu persatu penyesatan ekonomi oleh para politisi.

  1. Investasi asing

Investasi asing disini akan kita bagi menjadi dua, yaitu :

1. Investasi dimana negara asing membangun proyek di dalam negara kita

2. Investasi dimana negara asing membuka sebuah perusahaan di negara kita.

Para politisi pengemis elektoral kerap membohong-bohongi (atau mungkin mereka benar-benar tidak mengerti ekonomi) masyarakat dengan menyamakan 2 tipe investasi ini sama dengan menjual negara.

Padahal Investasi merupakan hal yang dicari-cari semua negara yang masih memiliki kewarasan berfikir, kenapa? loh wong orang mau membangun dan membuka lapangan pekerjaan kok tidak disambut?

Pada praktiknya memang banyak kekurangan-kekurangan. tapi, hey memangnya siapa yang bisa menggerakkan “kapal besar” ini tanpa kesalahan disana sini?

Analogikan investasi itu seperti ini :

pihak A adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak uang dan pengetahuan, sedangkan pihak B adalah seorang yang dalam keadaan serba membutukan.

Pihak A mau membangunkan toko untuk dikelola oleh pihak B, Pihak A memasang instalasi listrik di toko tersebut, membelikan motor untuk transport barang, terakhir pihak A memodali B untuk berdagang.

Semua ini dilakukan oleh A dengan perjanjian, setelah toko tersebut sudah mulai beroperasi, A dan B akan berbagi persentase keuntungan dari keuntungan perdagangan di toko tersebut.

Dalam skenario seperti ini, apakah artinya A menjajah B? atau A dan B sedang menjalin kerjasama yang saling menguntungkan?

Jika pihak asing membangun pembangkit listrik, jalan, jalur kereta, dan lain sebagainya, bukankah negara kita diuntungkan? baik dari terserapnya tenaga kerja selama pembangunan (soal ini akan memicu kontroversi, sekali lagi, semua pasti ada kekurangannya), hidupnya wilayah di sekitar proyek, terbukanya akses masyarakat, tercukupinya kebutuhan akan energi, terserapnya tenaga kerja untuk operasional proyek -misalnya pembangkit listrik-, dan lain sebagainya.

Adapun pihak asing diuntungkan juga oleh proyek ini, yah wajar saja. Kalau tidak ada keuntungan, untuk apa mereka melakukan itu semua, amal? haha..

Investasi dalam bentuk perusahaan asing yang membuka usaha di negara kita lebih jelas manfaatnya, membuka lapangan kerja dan pemasukan tambahan bagi negara dalam bentuk pajak.

Adapun -lagi-lagi- pihak asing diuntungkan karena top manajemennya dari pihak mereka dan profitnya banyak yang mengalir kepada mereka, ya tentu saja, kalau tidak untung, untuk apa mereka membuka usaha disini.

Perlu diingat dunia ini tidak zero sum game, artinya ketika mereka untung, bukan berarti kita merugi. Mereka untung, kita juga untung. it’s a win-win situation.

Bersambung ke part 2…

Advertisements