Ada yang salah dengan tim politik ketua umum PKB Muhaimin Iskandar.

Mendekati penetapan pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden di bulan Agustus nanti, suasana antar elit politik mulai bergolak. Sebagaimana diprediksi sebelumnya, elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto berdasarkan berbagai hasil survey masih tidak dapat ditandingi, sehingga ditengah kerangka presidential treshold yang hingga saat ini hanya memungkinkan 3 pasang calon, pertarungan telah berubah menjadi perebutan posisi calon wakil presiden, tak terkecuali Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Dengan perolehan suara pada pileg 2014 lebih dari 9%, kursi lebih dari 8% di parlemen, dan basis pemilih Islam, PKB yang digawanginya memiliki daya tawar yang besar dalam pilpres 2019 nanti.

Tetapi sayang sekali tim politiknya tidak mampu memanfaatkan modal besar itu.

Mereka malah main kasar baik di dunia nyata dengan memasang baliho dimana-mana dan terang-terangan mencari deklarasi dari berbagai elemen masyarakat. Di dunia maya juga strateginya sangat tidak efektif, timnya malah lagi-lagi main kasar dengan secara gamblang terlihat hanya memuja-muji Cak Imin.

Padahal kita semua tau karakter pemilih di Indonesia, tidak pernah ada seorangpun yang dinilai “berambisi” terhadap suatu jabatan yang pernah terpilih, paling tidak untuk kontestasi sekelas pilpres. Mungkin ini merupakan cerminan karakter bangsa Indonesia.

Bahkan selain itu Indonesia tidak pernah memiliki seorangpun presiden yang memiliki kemampuan orasi berapi-api selain bung Karno. Padahal di negara-negara lain biasanya orator-orator ulung bisa mendapatkan tampuk kepemimpinan. Mungkin secara tidak sadar, orang Indonesia mengaitkan orasi yang membara dengan “ambisi” dan jelas sekali mayoritas masyarakat kita tidak menyukai tokoh yang terlalu terlihat berambisi mendapatkan suatu jabatan. Sekali lagi inilah realita karakter pemilih di Indonesia.

Langkah-langkah tim politik Cak Imin membuat “ambisi” itu terlihat jelas, walaupun mungkin sebenarnya tidak seperti itu.

Malah sekarang ada wacana membentuk poros ketiga yang dalam realita hari ini bisa dibilang hanya merupakan langkah buang-buang sumberdaya. Saya mendukung semakin banyak calon yang berkompetisi akan semakin bagus, tetapi harus diakui secara kalkulasi memang sangat tidak memungkinkan.

Jelas pilihan yang paling masuk akal adalah merapat kepada kubu Jokowi atau Prabowo.

Anda bisa melakukan lobi-lobi kelas atas seperti apapun, tetapi dalam kondisi seperti saat ini, baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama tidak bisa sembarangan mengambil calon “pendamping”. Suara mereka yang terpaut tipis di 2014 menyebabkan mereka mau tidak mau harus menggandeng seorang wakil yang bisa mendongkrak elektabilitas mereka masing-masing.

Dan Tim politik Cak Imin malah melakukan yang sebaliknya.

Sayang sekali ketika modal politik yang besar tidak dikelola dengan benar.

Advertisements