Berhubung pendaftaran capres cawapres untuk pemilu 2019 akan dilakukan pada bulan Agustus tahun ini, tensi politik mulai meninggi di kalangan elit politik.

Setiap hari semenjak awal tahun 2018 ini kita selalu disuguhi tentang para “penantang” yang siap menggeser presiden petahana dari posisinya. Media mulai mengompori kontestasi politik dengan “mengipasi para veteran-veteran politik seperti Prabowo Subianto dan Yusril.

Partai oposisi tentu saja dengan berbagai manuver selalu mengatakan bahwa pemerintahan gagal dan hidup semakin tidak enak dan harga-harga semakin mahal sekarang, sebuah kesalahan berlogika karena tentu saja kinerja pemerintahan harus didiskusikan dengan takaran yang objektif bukan mengandalkan “rasa” yang teramat sangat subjektif dan tidak jelas takarannya.

Harga yang semakin mahal juga merupakan sebuah hukum dasar ekonomi, jika kita mempunyai kurva, tentulah harga barang APAPUN dan DIMANAPUN serta KAPANPUN akan terus meningkat. Politisasi ekonomi seperti ini jelas-jelas membodohi masyarakat dan menunjukkan tujuan mereka hanyalah untuk menang. Karena mereka pastinya cukup pintar untuk mengetahui bahwa seandainyapun mereka yang memerintah, harga pasti akan tetap naik. Politisasi ekonomi ini jelas menunjukkan bahwa mereka “yang penting menang” dulu tanpa memikirkan konsekuensi nantinya.

Ada juga orang yang mendeklarasikan diri sebagai capres yang berkoar-koar akan menyelamatkan “umat” atau masyarakat dari kezaliman, dan ketimpangan pendapatan. Dengan menjual frasa “umat” saja sudah telihat niatnya apa, sama sekali tidak ada itikad baik ataupun program yang disampaikan. Memangnya umat sedang kenapa? Apa bedanya umat sekarang dengan yang dulu? Anda punya program apa untuk umat? lalu bagaimana dengan orang yang diluar umat anda?

Yang jelas dari sudut semua orang yang akan menantang petahana, tidak pernah saya dengar satu pun program ekonomi kongkrit yang mereka tawarkan. semua hanya menjual kata “ekonomi kerakyatan”, “berdikari”, “mengatasi ketimpangan pendapatan” dan lain sebagainya.

Caranya gimana bos?

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti

Advertisements