“Jangan tanya apa yang negaramu berikan untukmu, tetapi tanyakan apa yang bisa kau berikan untuk negaramu”

~John F Kennedy (presiden Amerika Serikat ke-35)

Pada tulisan saya yang sebelumnya saya pernah menjabarkan mengenai apa sebenaranya kemajuan itu. (baca)

Tulisan ini saya tuliskan karena keresahan saya melihat sebuah pergeseran nilai dan mental yang terjadi di masyarakat. Jika dulu nasionalisme menjadi karakter kolektif masyarakat Indonesia yang ditandai dengan perjuangan yang luar biasa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan masyarakat yang menyerahkan harta benda yang dimilikinya demi negara seperti yang salah satunya dicontohkan oleh Nyak Sandang yang menjual harta miliknya dan keluarganya untuk disumbangkan kepada negara utuk membeli pesawat pertama Indonesia yang menjadi cikal bakal Garuda Indonesia. Kisah-kisah seperti itu sering kita jumpai jika kita menilik sejarah bangsa kita semakin jauh kebelakang, seperti juga berbagai lapisan masyarakat yang menyumbang untuk pembangunan monas dan berbagai cerita pahlawan yang mengorbankan segala-galanya demi bangsa dan negara.

Jika kita cermati, kisah-kisah seperti itu banyak terjadi di era pemerintahan Bung Karno dan pra-kemerdekaan, lalu apa yang terjadi setelah itu? Nampaknya era kestabilan dan pertumbuhan ekonomi yang menyusul setelahnya membuat banyak masyarakat terbuai, ditambah dengan banjir subsidi dan bantuan sosial yang menutupi kroni kapitalisme yang menggurita membuat masyarakat kita “kerasukan” mental demanding dan ketergantungan terhadap berbagai kenyamanan yang sebenarnya hanya kedok tersebut.

Karena itu jelas sekali ketika harus dihadapkan dengan realitas dan era persaingan global, banyak masyarakat kita yang kepanasan dan merindukan masa yang mereka anggap sebagai masa yang “lebih enak”.

Dengan pemikiran yang sempit dan budaya paternalistik, kalangan tersebut menganggap satu-satunya yang berbeda dari “dulu” dengan “sekarang” adalah presidennya.

Dan berbagai kalangan yang lain lagi terbuai lebih jauh ke Timur Tengah abad pertengahan dan menganggap yang berbeda dari zaman itu dengan zaman sekarang adalah sistem pemerintahannya.

Padahal yang paling berpengaruh terhadap kemajuan suatu bangsa adalah masyarakatnya. Ambil lah suatu contoh seorang presiden yang dianggap paling sukses di muka bumi saat ini, siapapun itu, lalu letakkan di negara paling berantakan di dunia misalnya Sudan Selatan, Zimbabwe atau yang lainnya, 100% Presiden terhebat di dunia itu tidak akan bisa memperbaiki keadaan dalam 1 periode, 2 periode, 3 periode atau 4 periode pemerintahan sekalipun.

Lalu letakkan Jacob Zuma atau Robert Mugabe menjadi presiden Jerman, Amerika atau Jepang. yang akan terjadi adalah para tiran korup tersebut akan “terpaksa” tunduk masyarakat dan sistem atau terguling, dan tiga negara tersebut akan tetap menjadi negara-negara terkaya di dunia.

Contoh paling sederhana adalah Jerman dari tahun 1900 sampai tahun 2000, di tahun 1900 sampai tahun 1918 Jerman berbentuk kekaisaran, Monarki absolut dinasti Hohenzollern. Setelah dinasti tersebut rontok, Di tahun 1919-1933 Jerman berbentuk Republik parlementer yang dibangun diatas konstitusi weimar. Lalu di tahun 1933-1945 adalah kebangkitan Nazi, sehingga Jerman praktis berada dibawah keditatoran fasis Adolf Hitler. Menyusul kekalahan pada perang dunia kedua, mulai tahun 1945-1990 Jerman terbelah dua menjadi Kapitalisme liberal di Jerman Barat dan Sosialis-Komunisme di Jerman Timur. Lalu setelah runtuhnya tembok Berlin, jerman bersatu lagi dalam bentuk pemerintahan Republik Federal yang demokratis.

Masyarakat Jerman merasakan berbagai bentuk pemerintahan dan penguasa, kalah dalam 2 perang besar dan menghadapi beberapa kali krisis ekonomi dalam rentang waktu 100 tahun, Tetapi Jerman tidak pernah sehari pun menjadi negara miskin dalam rentang waktu tersebut. Kenapa? karena memang MASYARAKATNYA yang tidak pernah berubah, masyarakat Jerman merupakan masyarakat yang cerdas, rajin, disiplin, pekerja keras dan rasional.

Tentunya memang ada pemimpin dan sistem pemerintahan yang gagal dan merusak misalnya komunisme, itu memang tidak bisa dipungkiri. Tetapi porsinya dalam merubah “nasib” negara paling-paling hanya 30% saja dan pasti dampaknya hanya terlihat dalam rentang waktu yang lama.

keyakinan dan pemikiran bahwa rezeki akan berubah jika presiden atau bentuk pemerintahan berubah adalah mimpi di siang bolong.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti