Venezuela tidak bisa dipungkiri lagi merupakan salah satu negara paling hancur lebur di dunia dalam kurun waktu lima tahun kebelakang. Inflasi mencapai 13.000%, Ekonomi telah menciut hampir 50%,  dan mata uang Bolivar (mata uang Venezueala) telah melemah 80 kali lipat dibandingkan 5 tahun yang lalu.

Untuk menggambarkan lebih jelas “kekacauan” tersebut, saya akan menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari orang di Venezuela. 5 tahun yang lalu uang sejumlah 236.000 Bolivar bisa membeli sebuah studio apartemen kecil di ibu kota, sekarang uang dengan jumlah yang sama bahkan hampir tidak cukup untuk membeli cemilan pencuci mulut. Gaji rata-rata penduduk Venezuela adalah sekitar 797.510 Bolivar atau sekitar Rp103.000 PER BULAN sedangkan harga satu kilo sembako mencapai 13.000.000 Bolivar atau sekitar Rp2.000.000. Pemandangan masyarakat Venezuela mencari makanan dari tumpukan sampah merupakan pemandangan yang sering kita temui jika kita berkendara di kota-kota di Venezuela. Masyarakat Venezuela harus mengantre selama rata-rata 8 jam untuk mendapatkan satu kilo sembako. Kini lebih dari 87% (hampir 9/10) penduduknya berada dibawah garis kemiskinan. Ditengah himpitan ekonomi seperti itu wajar jika tingkat kriminalitas meroket tajam, kini berjalan di Venezuela lebih berbahaya dibandingkan di kota paling berbahaya di Irak maupun Afghanistan sekalipun dengan tingkat pembunuhan 90/100.000 penduduk, Venezuela hari ini  merupakan tempat paling berbahaya di muka bumi. Terjepit antara kesulitan ekonomi, kriminalitas dan represi dari rezim yang berkuasa, jutaan warga Venezuela melarikan diri dari negaranya dan lebih memilih menjadi pengungsi di negara lain.

Sebagian pembaca yang belum tahu mungkin akan berfikir bahwa Venezuela merupakan negara kering kerontang minim sumberdaya alam seperti negara-negara termiskin di benua Afrika.

Padahal Venezuela adalah negara yang sangat subur dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan lebih besar daripada Saudi Arabia.

Lalu apa yang membuat negara yang seharusnya kaya tersebut menjadi negara yang paling melarat di dunia?

Jawaban 1 kata untuk pertanyaan tersebut adalah sosialisme.

Hugo Chavez, presiden Venezuela yang berkuasa hingga ia meninggal akibat penyakit kanker yang dideritanya meninggalkan bom waktu yang sangat mengerikan yang “meledak” sepeninggalnya.

Booming harga minyak dunia yang dimulai pada tahun 2004 memberikan modal yang sangat banyak bagi Chavez untuk membiayai revolusi sosialnya. Dulu (bahkan hingga sekarang) banyak orang yang mengelu-elukan Chavez sebagai tokoh anti imperialisme dan pro rakyat kecil.

Predikat ini disandang Chavez karena dia berani menasionalisasi (atau dengan kata lain : mengusir) berbagai perusahaan asing dan swasta di Venezuela serta memberikan berbagai program sosial terhadap masyarakat berupa berbagai subsidi makanan, kesehatan dan pendidikan secara besar-besaran. Harga seluruh bahan pangan di seluruh penjuru Venezuela juga sangatlah murah karena pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi untuk setiap bahan pangan sehingga seluruh harga kebutuhan pokok di Venezuela menjadi sangat murah dan terkendali.

Kombinasi bantuan sosial dan harga yang murah, era pemerintahan Chavez terasa seperti surga dunia.

Tetapi tentu saja struktur masyarakat seperti itu sangatlah rapuh seperti sarang laba-laba. Mental masyarakat Venezuela menjadi rusak dan ketergantungan terhadap bantuan pemerintah, tetapi ini belum menjadi masalah karena uang yang dihasilkan dari ekspor minyak masih mencukupi berbagai subsidi. Berbagai perusahaan asing dan swasta yang telah dinasionalisasi menjadi semakin tidak efisien dan pelayanannya carut marut serta terus menerus merugi karena tidak dikelola secara profesional, tetapi belum menjadi masalah karena penghasilan pemerintah dari minyak masih bisa digunakan untuk terus menerus menyuntikkan modal. Harga jual yang dikontrol membuat berbagai produsen kebutuhan pokok menjadi merugi dan bangkrut karena seringnya harga jual bahkan tidak menutupi modal produksi, hampir seluruh sektor kebutuhan pokok di Venezuela ambruk akibat kebijakan kontrol harga ini, tetapi dengan uang dari penjualan minyak yang begitu berlimpah, pemerintah tinggal membeli barang-barang tersebut dari luar negeri sehingga hal tersebut pun belum menjadi masalah.

Lalu bagaimana jika harga minyak dunia turun?

Itulah yang terjadi di tahun 2014, Harga minyak dunia yang sempat perkasa di atas harga $145 per barel terjun bebas hingga mencapai titik terendahnya dibawah $27 per barel pada tahun 2016. Lalu bagaimana nasib “jaring laba-laba” yang dibangun oleh Hugo Chavez?

Tentu saja rontok secara mengerikan menuju keadaan yang saya gambarkan di awal cerita, tetapi Chavez telah meninggal dunia di tahun 2013. Yang merasakan “ledakan” dari bom waktu tersebut adalah Nicolas Maduro yang menjadi presiden setelah Chavez tiada.

Kalau kejadian seperti ini terjadi di Indonesia, pasti Maduro akan dianggap presiden gagal dan akan ada spanduk bergambar Hugo Chavez yang bertuliskan “enak zamanku toh?” padahal segala kengerian dan kesempitan yang terjadi di era Maduro adalah dampak dari enaknya zaman Chavez.

Sayangnya Nicolas Maduro adalah presiden yang mengambil kebijakan yang sama persis dengan Hugo Chavez dan merupakan wakil dari presiden Chavez sehingga tidak ada yang bisa mengatakan hidup jadi “tidak enak” karena perubahan kebijakan ekonomi yang dibawa Maduro.

Orde baru juga mengalami kejadian yang cukup mirip dengan pemerintahan Chavez karena mengalami “Bonanza Minyak” yang menyebabkan pendapatan negara menjadi berlimpah ruah. Sayangnya, tidak seperti Qatar dan Dubai yang menginvestasikan pendapatan dari minyak untuk berbagai investasi jangka panjang yang bermanfaat, kekayaan Indonesia disedot oleh segelintir orang dan sama seperti Venezuela, ditutupi dengan berbagai bantuan sosial yang melemahkan mental masyarakat.

Jadi lain kali kalau melihat poster “enak zamanku toh?” ingat saja, kalau saja zaman “yang enak” itu dikelola dengan benar, sekarang kita sudah lebih maju daripada Malaysia yang sekarang penghasilan rata-ratanya 3 sampai 4 kali lipat lebih besar daripada penghasilan rata-rata orang Indonesia.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian atau sebaliknya, pilihan ada ditangan kita.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti

Advertisements