Rocky Gerung melontarkan sebuah pernyataan kontroversial di acara ILC Tv One. Setelah menjelaskan secara singkat mengenai definisi fiksi berdasarkan versinya, Rocky Gerung mengatakan: “Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi,”.

Dilanjutkan “Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah fiction, dan itu berbeda dengan fiktif,” ujarnya.  Telos artinya adalah “tujuan akhir” dalam bahasa Yunani.

Sampai titik ini Rocky menghadapi beberapa bantahan yang memang dipicu oleh perkataannya sendiri.

Terdapat kesan Akbar Faizal mencoba “menjebak” Rocky untuk menyebutkan kitab suci apa yang dia maksud, padahal “jebakan” ini tidak perlu karena jelas sekali ketika Rocky mengatakan “kitab suci” artinya adalah segala hal yang bernama kitab suci. ini merupakan salah satu poin yang coba digeser oleh para pembelanya.

Rocky Gerung jelas sekali terjebak oleh logikanya sendiri, sangat jelas terlihat narasi Rocky bertujuan mengangkat arti kata “fiksi” dengan sedemikian rupa sehingga tujuan akhirnya menyatakan bahwa Prabowo sah-sah saja mengutip novel fiksi, toh dalam “definisi Gerung” fiksi itu bukanlah sesuatu yang 100% palsu atau kebohongan.

Dari sini saja sudah terdapat kesalahan fatal, sebagaimana contoh lain yang dibawanya yaitu Babad tanah Jawi,

Dengan definisnya Rocky telah mensejajarkan Kitab Suci dengan Babad tanah Jawi dan Novel Ghost Fleet yang ketiganya -menurut definisi Gerung- adalah sesuatu yang fiksi.

Anggaplah kita terima dulu arumentasi dia bahwa fiksi dan fiktif adalah dua hal yang berbeda, dan fiktif adalah kebohongan.

Babad tanah Jawi adalah kisah yang belum tentu kebenarannya, dan banyak disikapi secara kritis oleh para sejarawan.

Ghost Fleet adalah sebuah novel dengan kejadian yang dibuat-buat, merupakan rekaan dari penulisnya.

Sedangkan kitab suci -jika anda seseorang yang beragama- merupakan sesuatu yang pasti sudah terjadi (dalam aspek sejarah) dan pasti akan terjadi (dalam aspek gambaran tentang masa depan).

Bagaimana mungkin suatu yang menuliskan sesuatu pasti sudah terjadi dan pasti akan terjadi memiliki definisi yang sama dengan dengan buku yang isinya belum tentu pernah terjadi dan kemungkinan tidak akan terjadi?

Lalu apa arti fiksi yang sebenarnya?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia fiksi memiliki 3 definisi :

1 cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya);

2 rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan

3 pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran.

Apakah kitab suci masuk dalam tiga definisi tersebut? sampai sini saja seharusnya diskusi sudah usai karena Rocky Gerung berbicara dengan bahasa Indonesia, tidak dengan bahasa Inggris ataupun latin, jadi seharusnya definisi yang digunakan adalah definisi yang sudah disepakati dalam bahasa Indonesia.

dalam kamus oxford, Fiction memiliki 2 makna :

1 mass noun Literature in the form of prose, especially novels, that describes imaginary events and people

Something that is invented or untrue.

   2.1A belief or statement which is false, but is often held to be true because it is expedient to do so.

Jelas lagi kitab suci tidak memenuhi kriteria “imaginary (khayalan)“, “invented (dibuat)“, “untrue (tidak benar)“, “false (salah)“.

Dalam bahasa latin, fictio memiliki arti bentukan, buatan dan fiksi. Yang menegaskan bahwa memang sesuatu yang fictio adalah sesuatu yang dibuat-buat, yang lagi-lagi tidak memenuhi kritera kitab suci.

Gerung sendiri mengakui bahwa definisi yang dia sampaikan adalah definisi yang dia buat-buat sendiri, dikutip dari CNN Indonesia dari wawancaranya dengan Rocky Gerung :

“Saya enggak pakai KBBI. Sebelum saya mengucapkan kitab suci itu fiksi, sebelum kalimat itu saya ucapkan, saya ucapkan dulu apa yang saya maksud dengan fiksi. Saya pakai keterangan berdasarkan definisi yang saya buat, saya bilang fiksi itu beda dengan fiktif. Dari awal saya sudah kasih tahu beda, kalau ada yang bilang sama, ya silakan bilang itu sama. Tapi, saya anggap itu beda, jadi silakan pakai definisi saya,”

disini jelas sudah terjadi kesalahan fatal sebagai seorang akademisi. Gerung tidak menyandarkan pendefinisian pada kamus tetapi sesuai yang dia kehendaki sendiri.

Fatalnya kesalahan yang dilakukannya sendiri telah membuat dia “jiper” terhadap “todongan” Akbar Faizal. jika dia memang menyandarkan definisinya kepada sesuatu yang kuat, pasti dia tidak akan takut mengatakan “semua” atau menyebut satu persatu. Jika dia bertahan dengan definisinya bahwa “fiksi itu baik” kenapa dia takut menyebutkan bahwa yang dia maksud adalah semua kitab suci?

Begitu juga kepada yang membela Gerung dari sisi definisi, kenapa tidak ada yang berani mengatakan “kitab suci saya fiksi”? tentu saja mereka tidak berani karena secara bahasa manusia, konsekuensi kalimat tersebut sangatlah berat.

Di sisi lain ada juga yang membela dari sudut “oh dia tidak sebutkan kitab suci yang mana, berarti bukan/belum tentu kitab suci saya”. Ini merupakan kesalahan bahasa yang sangat memalukan, ketika Karl Marx pendiri fondasi komunisme mengatakan “Agama adalah candu masyarakat”, tidak ada keraguan sedikitpun di muka bumi ini bahwa yang dimaksud oleh Marx adalah seluruh agama, dan memang Marx anti terhadap agama apapun. Terlepas dari anda setuju atau tidak dengan pernyataan tersebut, akan sangat lucu jika anda berargumentasi, “oh yang dimaksud Marx bukan agama saya, karena Marx tidak menyebut agama apa”, ketika tidak disebut, berarti yang dimaksud adalah “segala sesuatu yang bernama agama”. Begitu pula dengan pernyataan Gerung, selama anda menganggap kitab suci anda sebagai kitab suci, kitab itu telah dinyatakan sebagai fiksi oleh Rocky Gerung. Lain halnya jika Gerung mengatakan “selain kitab A, kitab suci adalah fiksi”, berarti jelas sekali makna kalimat Gerung adalah “segala sesuatu yang bernama kitab suci”.

Keributan ini lagi-lagi menjadi dibawa menjadi bagian polarisasi politik.

Menjadi lucu ketika perbuatan yang serupa tetapi dilakukan oleh orang dari kubu politik berbeda menjadi ditanggapi secara berbeda pula.

Sebagaimana ada sebagian orang yang selalu membawa-bawa kasus Honggo setiap ada berita penipuan umrah, ada pula orang yang membawa-bawa kasus Ahok dalam menanggapi pemberitaan mengenai Rocky Gerung kali ini.

Untuk menghindari label standar ganda (munafik), anda harus memiliki sikap yang seragam,

Jika anda marah terhadap Honggo, anda harus marah pula terhadap para penipu umrah, karena keduanya sama-sama melakukan kejahatan finansial yang merugikan banyak orang.

Jika anda biasa saja terhadap salah satunya, anda harus biasa saja terhadap keduanya.

Jika anda marah terhadap Ahok karena dia menghina kitab suci, sudah sepantasnya anda marah pula kepada orang yang mengatakan kitab suci sebagai khayalan.

Jika anda tidak tersinggung terhadap salah satunya, anda sepantasnya tidak tersinggung terhadap keduanya.

Menjadi polemik ketika anda membela orang yang mengatakan kitab suci sebagai khayalan, tetapi mengamuk terhadap orang yang mengatakan kitab suci bisa dijadikan alat kebohongan, begitupun sebaliknya.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti