Tentunya kita semua tidak sepakat terhadap masuknya pekerja dengan skill rendah ke Indonesia karena berlebihnya supply pekerja dengan skill rendah di negara ini. Jadi tidak usah digeser kesana kemari tulisan saya karena sejak awal saya sudah tidak sepakat degan masuknya tenaga kerja dengan skill rendah dari negara lain. Pemerintah Indonesia pun telah dengan sangat gencar melakukan razia dan deportasi terhadap pekerja asing ilegal di berbagai penjuru negara ini. Dari gencarnya penangkapan ini, jelas sekali bahwa tidak ada sedikitpun keberpihakan pemerintah terhadap pekerja asing ber skill rendah ini, jika pemerintah pro terhadap fenomena ini, tentu para pekerja tersebut bisa dengan mudah masuk secara legal dan tidak perlu bersembunyi dan di kejar-kejar kesana kemari.

Jawaban terhadap fenomena ini akan membahas dua aspek, yaitu aspek politis dan ekonomisnya.

Secara politis, jelas sekali isu TKA ini adalah isu yang dibangun oleh kalangan yang oposisif terhadap pemerintah, baik oposisi terbuka maupun tertutup. TKA yang jumlahnya sangat-sangat sedikit dibuat seolah sangat masif dan berada dimana-mana seperti isu PKI yang dihembuskan beberapa waktu yang lalu. Jumlah angkatan kerja di Indonesia per 2017 adalah lebih dari 131.000.000 orang (BPS) dan penduduk kita jumlahnya lebih dari 262.000.000 jiwa (Kemendagri). Jumlah pekerja asing yang ada di Indonesia adalah 126.000 jiwa, itupun sudah diakumulasi dari seluruh negara asal. jumlah tersebut tidak sampai 0,05% dari penduduk Indonesia atau sama dengan 1:2.000 orang. Adalah sebuah kegagalan berfikir ketika 2.000 orang merasa ketakutan dan merasa akan dikalahkan oleh 1 orang.

Jumlah 126.000 orang merupakan jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan lapangan pekerjaan yang dihasilkan per tahunnya di negara ini. Selama 3,5 tahun pemerintahan Jokowi, telah terserap 8.400.000 pekerja baru yang ditandai dengan berkurangnya persentase pengangguran di negara ini (BPS), padahal pertumbuhan orang yang membutuhkan kerja mencapai lebih dari 2 juta orang per tahun (Kemenaker). Jadi klaim bawa keberadaan TKA “merebut” lapangan kerja bagi warga lokal adalah klaim isapan jempol, karena seandainya SELURUH pekerja asing “diusir” pun tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap pasar tenaga kerja lokal. malah, PASTI lapangan pekerjaan akan berkurang¬† karena berbagai perusahaan multinasional akan hengkang dari negara ini. Lalu, jika kita melakukan “pengusiran” tersebut, kemungkinan besar negara lain juga akan mengusir pekerja migran Indonesia (PMI) dari negara mereka masing-masing. Jika itu terjadi, Indonesia akan mendapatkan tambahan lapangan kerja berjumlah 126.000 orang sedangkan pengangguran akan berambah 9.000.000 orang. Masih mau teriak dijajah asing? justru kita sangat diuntungkan dengan globalisasi dan semakin bebasnya pergerakan pekerja di dunia.

Sebenarnya para “orang pintar” di kubu oposisi sangat mengerti hitung-hitungan ini, sayangnya yang berguna bagi mereka adalah menutupi kenyataan ini dan menggunakan isu ini untuk menyerang pemerintah, saya berani menjamin perekonomian tidak akan menjadi lebih baik dan pengangguran tidak akan menjadi lebih sedikit dengan mengusir atau mempersulit tenaga kerja asing di Indonesia.

Berikutnya secara ekonomis, globalisasi merupakan multivitamin dengan rasa pahit yang kita harus makan. globalisasi, termasuk globalisasi tenaga kerja merupakan sebuah keharusan yang harus kita hadapi jika kita ingin berkembang. Pada umumnya tenaga kerja asing terbagi menjadi dua di negara-negara lain, low skilled worker dan high skilled worker. Di negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat (sebelum Trump), Timur Tengah, mereka sangat mendambakan masuknya tenaga low skilled worker ke negara mereka untuk menekan cost gaji dan bisa menggunakan uangnya untuk mengkonsumsi hal lain yang membuat ekonomi lebih bergerak, bayangkan jika orang Amerika harus membayar tukang gunting rumput dan asisten rumah tangga dengan standar gaji Amerika, atau orang Dubai harus membayar baby sitter dengan standar gaji warga Dubai? pasti mereka akan babak belur dan perekonomian akan lebih mandek. Di sisi lain, mereka juga senang sekali dengan masuknya high skilled worker migran karena membawa ilmu dan bakat profesional mereka untuk memajukan perekonomian di negara mereka. Tidak heran di negara-negara lain TKA sangatlah banyak jumlahnya dan tidak ada keributan “dijajah” seperti di Indonesia. Jumlah TKA di Qatar adalah 94% dari penduduknya, di Uni Emirate Arab TKA bejumlah 96% dari penduduknya, Singapura 36%, Amerika Serikat 16%, Malaysia 15%, bahkan Thailand 4,5%. Lalu berapa jumlah TKA di Indonesia? hanya 0,05% dari penduduk, jadi yang ribut-ribut soal ini bisa dibilang tidak mengerti sistem ekonomi global atau pura-pura tidak mengerti.

Sebagaimana saya sebutkan di awal, Indonesia memang tidak perlu low skilled worker asing, tetapi untuk High skilled worker asing jelas sekali kita masih sangat sedikit. Aturan main untuk high skilled worker asing harus dipermudah dan dibuat semakin menguntungkan Indonesia, bukan dilarang dan dijadikan komoditas politik. Inilah yang dinamakan brain gain, dimana Indonesia memancing orang-orang pintar dan profesional sehingga mereka bisa membesarkan bisnis di sini yang pastinya menambah lapangan kerja atau membuka bisnis baru yang juga akan membuka lapangan kerja.

Pertanyaan besarnya, negara kita mau maju dan besar seperti Amerika Serikat, Singapura dan lainnya, atau jadi negara “yang penting sedikit TKA” seperti Korea Utara?

Tulisan ini banyak angkanya, silahkan dbaca ulang untuk lebih meresapinya.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti

Advertisements