Isu elektoral di Indonesia memang jauh dari ideal sejak dulu, banyak golongan masyarakat yang memilih “wakilnya” baik di parlemen maupun di eksekutif dengan pertimbangan-pertimbangan yang kurang ideal, seperti ketampanan, kecantikan, keturunan, kesalehan personal, ketenaran, kepribadian dan lain sebagainya.

Sebenarnya untuk mendapatkan “wakil” yang optimal, yang perlu dilihat adalah dua hal yaitu integritas dan kompetensi. Kedua hal tersebut dapat dilihat dari track recordnya. Jika masyarakat Indonesia memaksimalkan potensi demokrasi dengan memperhitungkan 2 hal itu saja, alangkah indahnya negeri ini. Namun sayang sekali demokrasi kita memang masih jauh dari keadaan ideal.

Ditambah lagi belakangan ini rasa-rasanya banyak orang Indonesia yang memikirkan dan membahas politik 24 jam dalam sehari, segala isu dan obrolan yang dibahasnya berkaitan dengan politik. Status sosmed tentang politik, Grup chat bahas politik, Ngobrol sama teman dan keluarga tentang politik, dan terakhir yang akan dibahas di tulisan ini, ceramah-ceramah di forum dan tempat ibadah juga ternyata kini kental dengan nuansa politik.

Iya saya tahu bahwa agama memang mengurusi segalanya termasuk politik, tapi mengurusi seperti apakah yang dimaksud?

Agama harus bersih dari kepentingan dan bias pribadi serta tidak bisa saling memutlakkan.

Sayangnya ketika para pemuka agama membahas politik di forum/tempat ibadah, yang terjadi adalah pembahasan tersebut penuh bias dan kepentingan pribadi dan penuh pemutlakkan.

Ketika seorang pemuka agama memberikan ceramah bahwa semua orang harus jujur ketika menjadi politisi dan memilih politisi yang jujur, dan tidak mendukung politisi yang pemalas dan koruptif, tentu ceramah semacam itu akan didukung oleh siapapun.

Tetapi ketika seorang penceramah merupakan simpatisan, pengurus partai atau pendukung suatu tokoh tertentu lalu membawa-bawa dalil agama untuk mendukung apa yang menurutnya benar, maka disitulah polemik akan mulai timbul. Bagi orang beragama, sesuatu yang didukung oleh dalil agama tentu menjadi sebuah kebenaran atau kebajikan. Ketika seorang penceramah membawa-bawa dalil agama terhadap apa yang dia dukung, otomatis konsekuensinya pihak berseberangan dengannya akan dianggap sebagai pihak yang berseberangan atau melawan kebenaran.

Karena sekali lagi, ceramah seperti itu tentu sangat kental dengan bias personal penyampainya.

Ketika seorang pemuka agama membahas persoalan agama dan moralitas, dia adalah ahlinya.

Ketika seorang pemuka agama membahas politik praktis, dia adalah seseorang yang sedang membahas sesuatu yang tidak benar-benar dia mengerti.

Ketika seorang pemuka agama membawa-bawa dalil agama untuk mendukung pandangan politiknya, maka dia sedang menjadi seseorang yang menjadikan dalil agama sebagai pembenaran terhadap sesuatu yang dia anggap benar tentang hal yang sebenarnya tidak terlalu dia mengerti. Dan konsekuensinya adalah semakin kentalnya nuansa “benar mutlak” dan “salah mutlak” di tengah-tengah masyarakat.

Lalu ada lagi yang lain, ada yang tidak membawa-bawa dalil agama dan mencoba merasionalkan pandangan politiknya dengan membahas persoalan ekonomi dan kebijakan ekonomi di forum/tempat ibadah.

Sekilas tipe yang kedua ini lebih baik ketimbang yang dibahas di awal, tetapi jika kita lihat lebih jauh sebenarnya keduanya hampir sama saja.

Ketika seorang pemuka agama sedang berbicara di forum/tempat ibadah, dia sedang menjadi seseorang yang patut didengarkan dan patut dijadikan panutan. Sayangnya di kesempatan mulia yang diberikan itu, dia malah membahas sesuatu yang dia tidak benar-benar mengerti. Ekonomi makro adalah sebuah bidang yang saaangat rumit dan tidak bisa dicerna dan disampaikan hanya dengan cara-cara sederhana. ketika misalnya seorang pemuka agama membicarakan utang negara, sejauh mana sebenarnya dia mengerti persoalan utang negara? apa dia pernah membuat karya tulis atau jurnal atau penelitian tentang utang negara? sejauh mana dia mendalami rasio utang, sumber utang, penggunaan utang dan lain sebagainya? sejauh mana dia telah melakukan komparasi dengan negara-negara lain? tentu sebagian besar tidak melakukan itu, kebanyakan hanya mendapat informasi dari membaca artikel-artikel atau koran dan menonton berita. kalau begitu apa bedanya yang berbicara dengan yang mendengar? Sayang sekali ketika seorang pemuka agama diberikan kesempatan yang mulia justru membahas hal yang dia tidak benar-benar mengerti.

Sebagai contohnya adalah mengenai pengurangan subsidi BBM, hampir di setiap kesempatan adanya pengurangan subsidi BBM, saya seringkali mendengar penceramah yang “menyerang habis-habisan” pemerintah atas kebijakan ini. padahal jika kita bertemu dengan para ekonom handal baik level nasional maupun internasional, sebagian besar akan bersepakat bahwa pengurangan subsidi energi adalah sesuatu yang esensial untuk menjaga kesehatan anggaran negara dan baik untuk bisa mengalihkannya ke sektor lain yang lebih produktif. Yang terjadi ketika seorang pemuka agama “menyerang” kebijakan pengurangan subsidi adalah, dia sedang menyerang sebuah kebijakan yang baik. tentu saja ini terjadi karena banyak diantara mereka yang bicara soal ekonomi di forum/tempat ibadah, tidak benar-benar mengerti tentang ekonomi.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti