Teori konspirasi adalah racun bagi intelektualitas. Teori konspirasi mencoba menyajikan jawaban tanpa bukti dengan hanya menghubungkan kebetulan-kebetulan dan kejanggalan-kejanggalan untuk menjadi sebuah narasi yang mereka anggap sebagai kebenaran.

Menurut definisi oxford, conspiracy adalah “a secret plan by a group to do something unlawful or harmful”.

Kenapa teori-teori konspirasi menjadi racun dalam dunia intelektualitas? Karena teori-teori konspirasi umumnya melawan kenyataan dan bukti yang benar-benar nyata dan hanya berlandaskan pada pemikiran-pemikiran yang dasarnya hanya “kalau memang begini, kenapa bisa begitu”. Racun kedua yang dibawa oleh teori konspirasi adalah keengganan untuk mengakui kesalahan yang pada akhirnya kita menjadi tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut.

Saya ambil contoh satu, di Negara-negara timur tengah ada sebuah kesepakatan pemikiran besar bahwa yang menyebabkan Negara-begara tersebut terbelakang adalah konspirasi besar Zionis Yahudi dan Amerika Serikat yang melakukan segala daya dan upayanya untuk membuat Negara-negara timur tengah terkungkung dalam kemiskinan dan perang.

Sepintas pemikiran ini ada benarnya karena memang Irak luluh lantak dalam serangan amerika dan sekutunya. Tetapi pemikiran ini jauh dari tepat karena akar permasalahan hampir semua perang di timur tengah adalah sektarianisme. Silakan di daftar sendiri semua perang yang terjadi di timur tengah dan hitung berapa yang memang benar-benar dimulai oleh Amerika atau Israel.

Belum lagi soal kemiskinan, Negara-negara di Timur Tengah seharusnya mau mengakui bahwa “penyakit” ada pada diri mereka dan kemajuan hanya bisa dicapai dengan memperbaiki masyarakat dan institusi negaranya, bukan dengan menyalah-nyalahkan pihak luar atas kemiskinan dan keterbelakangan yang melanda mereka. Jerman dan Jepang adalah contoh dua Negara yang bisa “maju lagi, maju lagi” walaupun mereka telah secara nyata dihancur leburkan oleh kekuatan eksternal. Racun konspirasi disini adalah menolak mengakui masalah dan mencari pembenaran ketimbang benar-benar mengakui dan bersama-sama mengatasinya.

Masih banyak contohnya, seperti konspirasi  bahwa ada kekuatan global yang menyembunyikan “fakta” bahwa Bumi ini datar, lalu mereka yang mempercayai teori konspirasi ini akan mebuat bantahan terhadap berbagai fakta ilmiah hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran mereka. Sebenarnya ada banyak cara untuk membuktikan bentuk Bumi secara ilmiah, sayangnya para penganut teori konspirasi memang lebih senang hanya bermain kata-kata.

Yang terkini di Indonesia adalah, setiap kali ada aksi terorisme selalu ada sebagian kalangan yang mengatakan “itu settingan” termasuk kejadian di mako brimob beberapa hari yang lalu. Hanya bermodalkan pemikiran-pemikiran tanpa bukti banyak orang yang mengatakan setiap aksi terorisme adalah pengalihan isyu dan settingan. Racun dari pemikiran ini adalah lagi-lagi menolak mengakui adanya penyakit sehingga kita tidak mungkin bisa benar-benar menyembuhkannya. Terorisme adalah penyakit, dan teroris itu ada, lalu kenapa terus menerus ada orang yang menyangkalnya? Apa yang ada difikiran mereka ketika menyangkal setiap aksi terorisme? Apa mereka beranggapan bahwa semua orang baik? Atau mereka beranggapan teroris itu tidak ada? Ini adalah racun intelektualitas yang sangat berbahaya.

Silakan berteori dan behipotesis, tetapi simpan untuk diri sendiri jika tidak memiliki bukti dan hanya berdasar dugaan-dugaan semata. Teori konspirasi mencoba memberi jawaban tetapi pada akhirnya hanya memberi alasan-alasan yang justru mengaburkan kenyataan dan sumber permasalahan sebenarnya.

Lucunya para orang yang mempercayai teori-teori konspirasi justru merasa sebagai orang yang intelek dan “menolak dibohongi” oleh narasi mainstream. Padahal kenyataannya sebagian besar sedang mempermalukan diri sendiri dengan tertawa sembari meminum “racun intelektual” yang sama sekali tidak intelek.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti

Advertisements