Kekalahan koalisi Barisan Nasional (BarNas) yang digawangi oleh Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) merupakan sebuah kejadian yang besar. Bagaimana tidak, BarNas telah menjadi penguasa di Malaysia selama 60 tahun semenjak kemerdekaannya dari Inggris. Tetapi kekalahan fenomenal tersebut tidak menjadi hal yang mengejutkan karena sesosok politisi senior bernama Mahathir Mohamad.

Mahathir Mohamad merupakan politisi senior yang telah banyak dijuluki sebagai bapak Malaysia modern dikarenakan kepemimpinannya yang telah membawa Malaysia dari sebuah negara yang tidak diperhitungkan dan terkungkung krisis menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling fenomenal di kawasan.

Di tulisan ini saya akan sedikit menceritakan mengenai latar belakang kekalahan Najib Razak sang perdana menteri, ketua UMNO sekaligus ketua koalisi Barisan Nasional yang naik karena Mahathir dan tumbang juga karena Mahathir.

Awalnya Mahathir yang masih memegang pengaruh kuat di koalisi BarNas lah yang menyorongkan nama Najib yang merupakan muridnya untuk menjadi perdana menteri Malaysia menggantikan Abdullah Badawi yang mengundurkan diri. Lalu hubungan keduanya memburuk semenjak skandal 1MDB yang menyebabkan uang sebesar 4,5 Miliar Dollar (sekitar 63 Triliun rupiah) raib secara tidak jelas dan hasil investigasi berbagai lembaga di dalam dan luar negeri menemukan bahwa sekitar 700 juta Dollar (sekitar 9,8 Triliun Rupiah) mengalir ke rekening pribadi Najib. Najib berkelit dengan mengatakan bahwa uang sejumlah tersebut merupakan sumbangan dari berbagai donatur di Timur tengah untuk dirinya.

Skandal ini merupakan salah satu skandal finansial terbesar sepanjang sejarah dan secara telak mengguncang peta perpolitikan negara tersebut dan menghasilkan beberapa demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh kubu oposisi Pakatan Harapan (PH).

Bukti korupsi Najib sebegitu terang benderang, Bahkan istri Najib bisa menghabiskan lebih dari setahun gaji seorang perdana menteri hanya dalam sekali belanja di luar negeri. Tetapi Najib malah mencopot menteri-menterinya yang tidak mendukungnya dalam skandal korupsi ini dan menjopot jaksa agung yang mencoba memeriksanya dalam kasus 1MDB. Jadi akan sangat lucu menghubung-hubungkan kekalahan Najib hanya sekedar kekalahan penguasa terhadap oposisi karena pemerintahan Najib memang sangat dirundung oleh skandal korupsi yang begitu nyata.

Sayangnya sebelum kembalinya Mahathir di kancah perpolitikan Malaysia posisi Najib tetaplah kuat. Hal ini dikarenakan Najib dan koalisi BarNas dianggap merupakan representasi Melayu-Muslim dan memang Najib sering memainkan sentimen tersebut di dalam pemerintahannya. Najib sering menggambarkan diri sebagai orang yang sangat membela bangsa Rohingya dan Palestina dalam berbagai kesempatan dan para pendukungnya juga juga sering menggunakan isu-isu ras dan Agama untuk menyerang oposisi. Ditambah kenyataan banyaknya warga Malaysia dengan etnis Tionghoa dalam berbagai demonstrasi anti Najib, pendukung Najib semakin banyak yang yakin bahwa ini adalah “pertarungan pengaruh” ras dan agama dan tetap membela Najib mati-matian walaupun skandal korupsi begitu nyata karena mereka menganggap kekalahan Najib dan BarNas adalah kekalahan Melayu-Muslim.

Keadaan ini berbalik dengan kemunculan Mahathir Mohamad yang menyatukan semua elemen masyarakat dan dianggap sebagai pemersatu semua golongan. Semakin sedikit alasan bagi para pendukung BarNas untuk ketakutann bahwa Melayu-Muslim akan tersingkir jika BarNas kalah karena Mahathir juga merupakan tokoh Melayu-Muslim yang sangat dihormati dan telah membuktikan diri dengan kinerja yang sangat baik di era pemerintahannya, sehingga hari ini pluralitas menang atas sentimen primordial. Rakyat Malaysia memenangkan koalisi oposisi dengan melihat kinerja, dengan kemuakan atas korupsi dan lebih mementingkan kedua hal tersebut melebihi isu-isu primordial. Walaupun kemenangan ini belum sepenuhnya karena harus diikuti “campur tangan” ketokohan Mahathir Mohamad.

Gabungan antara kejadian-kejadian inilah yang menyebabkan kekalahan koalisi Barisan Nasional walaupun fenomenal tetapi menjadi tidak mengejutkan.

Tetapi tantangan belum berakhir, Mahathir sudah sangat tua dan berjanji akan segera mengalihkan kepemimpinan kepada orang lain. Di sisi lain, janji politik partai oposisi sangatlah populis sehingga akan ada kekhawatiran Malaysia akan mengambil jalan yang buruk secara ekonomi hanya untuk menyenangkan sebagian masyarakat dan mengabaikan pembangunan berkepanjangan. Lalu ada kekhawatiran koalisi Pakatan Harapan akan bisa dikalahkan lagi oleh Barisan Nasional jika mengambil kebijakan yang bagus tetapi tidak populer, apalagi setelah Mahathir benar-benar mundur dari dunia perpolitikan.

Jadi kemenangan Mahathir terkini bukanlah berarti Malaysia sudah akan terbebas dari masalah tetapi merupakan membuka kesempatan untuk mengambil jalan yang curam tetapi mengarah kepada sesuatu yang lebih baik.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti

Advertisements