Saya sudah pernah menulis sebelumnya tentang bagaimana orang Indonesia belakangan ini isi kepalanya selalu tentang politik di tulisan ini. Lalu ada juga tulisan saya yang “mengecam” orang yang selalu mengeluarkan teori-teori beracun tentang kejadian terorisme di Indonesia (link). DI tulisan ini saya akan membahas segolongan orang yang jauh lebih kejam daripada itu, yaitu orang yang menggunakan tragedi untuk kepentingan/pandangan politik pribadi dan kelompoknya.

Sama seperti beberapa politikus yang menggunakan tragedi Rohingya untuk mengecam pemerintah beberapa waktu yang lalu.

Disini jelas sekali twit tersebut tidak benar-benar berbicara tentang tragedi yang menimpa bangsa Rohingya. Ketimbang melakukan aksi nyata atau paling tidak mengeluarkan kecaman resmi terhadap pelaku kejahatan, Wakil ketua DPR ini malah memanfaatkan momentum untuk melakukan hal yang memang sudah lama menjadi kegiatannya, “menyerang” pemerintah. Silakan nilai sendiri dari twit tersebut, apakah pernyataan tersebut lebih memiliki bobot rasa simpati terhadap bangsa Rohingya atau dikeluarkan sebagai suatu bahan diantara berbagai bahan lainnya untuk menyerang pemerintah.

Yang kedua adalah tragedi di mako brimob beberapa hari yang lalu. Ketika ada seorang istri-istri yang ditinggal suami, anak yang tidak akan pernah melihat ayahnya dan orang tua yang haru kehilangan putra kebanggaannya, ada beberapa politisi yang malah lebih sibuk membahas Ahok hanya karena kebetulan Ahok di tahan di rutan tersebut.

Bayangkan kematian rekan, anak, ayah, suami, adik, kakak anda hanya dijadikan sebagai salah satu bahan serangan sebagaimana serangan-serangan lainnya yang memang rutin disampaikan para politisi tersebut.

Sekali lagi, para politisi ini memang memiliki agendanya sendiri yaitu hashtag yang dia sebarkan selama ini. Bayangkan bukannya mengutuk para pelaku dan jujur terhadap penyebab tragedi tersebut, Mardani malah sibuk menjadikan kematian para aparat kepolisian sebagai bahan bakar bagi agenda ganti presidennya. Sejak kapan kerusuhan penjara menjadi ciri kelemahan presiden? bukankah kerusuhan penjara terjadi di negara manapun di dunia ini? jadi jelas sekali postingan Mardani diatas adalah memanfaatkan tragedi dan kematian hanya untuk postingan yang mendukung agenda politiknya.

Lalu yang paling terkini adalah pernyataan -lagi-lagi- dari Fadli Zon yang memanfaatkan tragedi kematian 13 orang anak, kakak, adik, ayah, ibu, dan saudara dan hancurnya puluhan keluarga serta banyak yang mungkin menderita cacat permanen sebagai amunisi bagi agenda dan kepentingan politiknya.

Tidak Fadli Zon, yang anda nyatakan adalah pendapat pribadi dan bukan kenyataan. Kenyataannya aksi terorisme terjadi dimana saja, termasuk di Turki dibawah Erdogan, Amerika dibawah Bush dan Obama, di Perancis dibawah Macron, di Belgia dibawah Charles Michel, di Jerman dibawah Angela Merkel, di Indonesia dibawah presiden-presiden sebelumnya dan di berbagai negara lainnya di seluruh dunia. Apa menurut anda semua negara tersebut adalah negara yang lemah pemimpinya, mudah diintervensi banyak kemiskinan, ketimpangan dan ketidak adilan? Jelas sekali nyawa yang hilang dan tubuh yang rusak selama-lamanya hanya sekali lagi dijadikan amunisi untuk menyerang pemerintah yang memang sudah rutin mereka serang dengan bahan apapun.

Sungguh mengerikan dan menyedihkan fenomena ini.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti

Advertisements