Adalah tidak ditawarkannya alternatif dari sosok yang ingin diganti baik itu orangnya maupun kebijakannya.

Di banyak negara maju oposisi menjadi kelompok yang memberi alternatif, bukan hanya sekedar berteriak “itu salah, itu salah”. Bahkan di Australia, ketika koalisi pemerintah mengajukan anggaran negara setiap tahunnya, maka oposisi juga akan mengajukan anggaran tandingan sehingga masyarakat bisa melihat program apa yang oposisi sodorkan, seberapa rasional anggaran mereka dan membuktikan diri bisa mengatasi apa yang mereka kritik misalnya defisit anggaran atau pertambahan utang.

Oposisi di Indonesia sangat getol mengkritik pertambahan utang dan defisit anggaran tetapi alternatif apa yang mereka sodorkan? berani dan mampukah mereka menyusun anggaran negara yang memiliki defisit lebih sedikit  pertambahan utangnya lebih sedikit atau malah mungkin bisa mengurangi utang? Kalau memang bisa, kenapa mereka tidak menyusun anggaran tersebut dan menyerang pemerintah dengan “fakta” bahwa mereka bisa menyusun anggaran negara tanpa defisit dan mengurangi utang negara dan bisa tetap mempertahankan subsidi-subsidi yang juga menjadi bahan kritik dari mereka ketika pemerintah mencabutnya?

Beranikah oposisi di Indonesia memberikan alternatif dan studi bagaimana caranya agar pembangunan tetap pesat ditengah anggaran yang dipangkas? Atau adakah cara dari mereka untuk membangun tanpa investasi asing yang juga mereka kritik? lalu tanpa utang juga?

Atau apa solusi agar Indonesia menjadi negara yang ramah investasi di sisi lain mempersulit tenaga kerja asing masuk?

Apa mereka berani memberikan studi bahwa membuat harga-harga murah dengan subsidi akan lebih baik ketimbang membangun infrastruktur secara besar-besaran? ini menjadi penting karena ada salah satu petinggi partai oposisi yang mengatakan bahwa tujuan infrastruktur adalah pencitraan. Menjadi unik karena manfaat dari infrastruktur tidak bisa langsung dirasakan dan mungkin banyak yang baru selesai ketika pemerintahan yang sekarang sudah tidak menjabat, bodoh sekali orang yang membangun infrastruktur untuk pencitraan. Secara politis jelas sekali bahwa subsidi lah yang merupakan pencitraan.

Seharusnya oposisi bisa memberikan studi bahwa jika kita mempertahankan harga murah dengan subsidi, dalam 50 tahun Indonesia akan lebih maju ketimbang memperbanyak pembangunan infrastruktur.

Atau kalau membuat kajian seperti itu terlalu rumit bagi mereka, bagaimana kalau menyorongkan tokoh? mungkin setidaknya kita bisa adu track record.

Oh belum ada? apa? yang penting ganti?

Loh kalau belum ada kan bisa saja penggantinya lebih jelek?

apa? pokoknya tetap ganti?

Yang seperti ini lah yang sudah mulai tidak rasional. Tentu seharusnya kita mengharapkan putra terbaik bangsa yang menjadi kepala pemerintahan di negeri kita, kalau “yang penting ganti” berarti anda anggap pemerintahan yang sekarang tidak ada baiknya sama sekali dan siapapun yang menggantikannya PASTI lebih baik. Apa pola fikir seperti itu rasional?

Kalau tidak ada baiknya sama sekali pasti tingkat kepuasan terhadap pemerintah sudah kecil sekali, mungkin dibawah 4 persen seperti presiden korea selatan sebelumnya, Park Geun Hye. tetapi buktinya masih banyak yang mendukung pemerintahan Indonesia sekarang, berarti seharusnya oposisi harus secara rasional mengatakan “kami sanggup melakukan lebih” dan berani menyodorkan siapa yang lebih baik itu bukannya menyatakan “ganti ganti” tanpa memberikan alternatif yang lebih baik. Jadi siapa dan apa programnya?

Lalu juga oposisi sering berteriak setiap harga-harga naik atau nilai mata uang turun.

Seharusnya oposisi kampanye dong bahwa mereka mengerti caranya menurunkan harga BBM, listrik, sembako dan lainnya.

Atau mungkin diantara oposisi ada ekonom hebat yang bisa mencegah penguatan mata uang negara lain?

Atau darimana uang kita cukup untuk mengelola negara sebesar ini tanpa utang sedangkan anggaran kita harus mencicil utang pemerintahan terdahulu? bagaimana caranya?

Kalau mereka tau caranya, kenapa mereka tidak pernah mengatakannya? harusnya mereka beri tahu agar masyarakat memilih mereka nantinya.

Kalau mereka tidak tau solusinya kenapa mereka hanya ikut ribut saja bukannya belajar dan cari tau?

Ada jawaban yang paling lucu yang saya ingat sering dilontarkan oposisi di acara talk show televisi ketika ditanya “solusi”. Beberapa sering bilang “tentu kita tidak bisa ungkapkan sekarang, karena kalau diungkapkan nanti ditiru dong”. Loh, sampeyan pikir ini ujian kenaikan kelas?

Kita berada di kapal yang sama bung, kalau memang kapal ini menurut anda bocor dan anda tau cara menambalnya, kenapa anda tidak beri tau? apa kapal yang menurut anda bocor ini tidak apa-apa tenggelam karena kaptennya bukan dari kelompok anda?

Kalau punya solusi yah share kalau memang anda peduli dengan negara ini. Dan tentu saja pamor oposisi akan naik jika masukan mereka diterima pemerintah, dilaksanakan dan ternyata berhasil.

Kalau punya solusi tetapi tidak mau share yah lucu sekali, anda benar-benar peduli atau tidak terhadap negara ini?

Tetapi saya lebih percaya mereka tidak share karena mereka juga tidak tau solusinya.

Semoga kita semua jadi #TambahNgerti