Ada yang salah dengan mindset pembangunan di Indonesia terutama di daerah.

Selama ini pemerintah daerah (pemda) maupun pusat selalu memposisikan dirinya sebagai yang paling kuat dan berkuasa. Tidak ada bisnis yang bisa berjalan tanpa restu dari pejabat publik dan jangan harap ada izin yang bisa keluar tanpa kuasa pejabat publik.

Tentu ini semua adalah kesalahan fatal dalam menjalankan pemerintahan dan banyak membuka celah untuk KKN.

Di sisi lain ada juga mindset pemda yang mengukur kesuksesan dari banyaknya pendapatan asli daerah (PAD) padahal secara serampangan mengejar PAD adalah sebuah kesalahan besar karena pasti dikejar dengan pajak yang besar atau ongkos perizinan yang selangit.

Padahal kalau kita mau belajar dari Texas sebagai sebuah provinsi atau Dubai sebagai contoh, yang harus dilakukan justru berbeda 180 derajat.

Texas merupakan salah satu provinsi/negara bagian paling maju di Amerika Serikat. GDP (Gross DOmestic Product) satu provinsi ini lebih besar daripada seluruh GDP Indonesia, Spanyol, Saudi Arabia, Turki, Russia bahkan Australia dan Korea Selatan.

Lalu ada Dubai, salah satu kota dengan penghasilan rata-rata penduduk tertinggi di DUNIA.

Apa rahasia ketiga tempat tersebut yang bisa ditiru oleh Provinsi dan kota-kota di Indonesia?

Berkebalikan dengan berbagai kebijakan pemda di Indonesia yang mengejar PAD setinggi-tingginya melalui pajak yang tinggi dan memastikan betapa berkuasanya mereka dengan memastikan tidak ada izin dan usaha yang bisa berjalan lancar tanpa berlaku baik dan sopan kepada aparatur negara ditambah izin yang berbelit dan banyak, Texas yang dikuasai pemerintahan berfaham eonomi konservatif merupakan provinsi dengan pajak paling rendah dan perizinan paling mudah di seluruh seantero Amerika Serikat.

Pajak yang rendah dan perizinan yang mudah jelas sekali merangsang datangnya berbagai perusahaan untuk membuka usahanya di Texas. Dengan datangnya berbagai perusahaan, Lapangan pekerejaan menjadi semakin banyak. Semakin banyaknya perusahaan yang datang juga memancing putra terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk datang bekerja ke Texas yang pada gilirannya membuka lebih banyak perusahaan karena harus memenuhi kebutuhan mereka. Semakin banyak orang-orang berkualitas yang berada di texas, maka berbagai perusahaan juga akan semakin senang membuka usaha di Texas karena bisa mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas.

“Lingkaran baik” ini pada gilirannya menjadikan Texas menjadi salah satu provinsi dengan ekononi paling besar di Amerika Serikat, bahkan jika memerdekakan diri, satu provinsi ini akan langsung mejadi negara dengan ekonomi paling besar ke 11 di dunia, mengalahkan korea selatan, Rusia, Indonesia, Turki dan negara-negara lain yang penduduknya berkali-kali lipat lebih besar.

Jadi mau mengikuti Texas yang dengan pajak rendah dan izin mudahnya telah terbukti membuat ekonomi provinsinya begitu besar dan kuat atau tetap ngotot mengejar PAD yang besar dan posisi pemda yang powerful seperti berbagai daerah di Indonesia saat ini?

Kasus berikutnya dalam skala kota adalah Dubai. Mungkin ada yang bilang “wajar saja Dubai kaya, kan mereka banyak minyak”. Pernyataan tersebut salah total karena jual beli minyak hanya bernilai tidak sampai 1% dari seluruh kegiatan ekonomi di Dubai, sisanya adalah dari berbagai kegiatan lain seperti bisnis, perbankan, turisme dan lain sebagainya.

Lalu apa kunci kesuksesan Dubai? Tentu saja sama dengan Texas. Pajak yang rendah (bahkan sampai hari ini tidak ada pajak penghasilan di Dubai), dan perizinan yang mudah yang mendatangkan berbagai perusahaan multinasional dari berbagai penjuru dunia ke negara tersebut. Tidak terhitung jumlah berbagai perusahaan multinasional yang membuka usaha di Dubai. pajak yang rendah dan perizinan yang mudah pun membuat warga asli Dubai sangat mudah membuka usaha. Jika makin banyak pengusaha yang membuka usaha di Dubai, maka pada gilirannya adalah terbukanya lapangan pekerjaan yang luar biasa banyak jumlahnya di Dubai.

Lalu, sebagai sebuah kota kecil di sebuah negara kecil, Dubai memerlukan satu rumus rahasia lagi, yaitu kemudahan bagi imigran untuk masuk dan bekerja di negaranya.

Untuk memenuhi kebutuhan SDM para perusahaan yang membuka usaha di Dubai, Kota tersebut harus menarik berbagai sumber daya dari seluruh dunia dengan berbagai kebijakannya yang ramah terhadap imigran. Lebih dari 96% penduduk Dubai adalah pendatang.

Tiadanya pajak penghasilan, mudahnya perizinan dan kemudahan bagi imigran untuk masuk dan bekerja di Dubai telah mendatangkan BANYAK perusahaan multinasional dan BANYAK SDM berkualitas dari seluruh dunia.

Seperti pada Texas, pada gilirannya dua kondisi ini yang menyebabkan “lingkaran baik” yang membuat pertumbuhan ekonomi Dubai merupakan yang paling pesat sepanjang sejarah umat manusia.

Semoga para kepala daerah di Indonesia mau belajar lebih jauh dari daerah-daerah tersebut dan mempraktekkannya di wilayahnya masing-masing, bukan hanya mengejar kekuatan pemda dan pendapatan daerah sebesar-besarnya yang pada gilirannya justru membuat para pelaku usaha lari dari wilayahnya. jika pelaku usaha lari dari wilayahnya, tentu saja daerah tersebut akan mengalami “brain drain” dimana para putra terbaik daerah akan lari dari wilayah tersebut untuk mencari kerja atau membangun usaha di daerah lain yang lebih bersahabat.

Semoga kita semua menjadi #TambahNgerti

Advertisements